Bukan tanpa sebab aku ke Alun-alun Menes melainkan ada acara yang sengaja digelar oleh relawan Rumah Dunia—menggelar perpustakaan keliling bersama Sejo Qulhu dan Sueb.

Perpustakaan keliling digelar pada pukul 06:33 WIB. Mobilnya nangkring berdekatan dengan ibu-ibu yang sedang senam aerobik. Rasa-rasanya membaca juga sedikit terganggu karena musiknya yang menggelar.

Tapi beruntung, mobil Pusling Rumah Dunia diserbu dengan cepat oleh puluhan anak-anak. Musik dinyalakan untuk menarik perhatian, setelah selesai dua lagu, aku memutuskan mewawancarai Sejo Qulhu, aktor intelektual Pusling Rumah Dunia.
Apa yang membuat Anda tertarik menggelar perpustakaan dan Rumah Dunia di Menes?
“Jadi begini, saya sudah jauh-jauh hari pernah lapakan di Pandeglang dan kepikiran lapakan di Menes tempat kelahiran saya. Yang lebih menarik di sini, Menes, adalah pusat pendidikan yang ada di Pandeglang,” katanya.

Jodi memberikan alasan mengapa Menes disebut pusat Pendidikan di Pandeglang karena setiap langkah kaki di Menes sangat mudah menemukan lembaga pendidikan mulai dari sekolah formal sampai dengan non-formal. “Menes ini menaranya pendidikan Pandeglang,” tambahnya.

Menurutnya, setiap hari Senin atau jam-jam sekolah kecamatan Menes sangatlah sulit untuk dilalui oleh kendaraan karena macet oleh pelajar yang berlalu lalang.
Mengapa tertarik lapakan buku kecamatan Menes?
“Kedatangan perpustakaan keliling Rumah Dunia untuk mencerdaskan anak Menes biar tidak berjarak dengan buku. Saya sedikit kecewa karena di sini buku stagnan tidak pernah didekatkan ke warga. Yang lebih memprihatinkan cuma buku ajar doang,” kata YouTubers Sejo Qulhu ini.

Alasan lainnya, Sejo mengungkapkan bahwa semua masyarakat khususnya Menes jangan cuma didekatkan pada kesehatan fisik melainkan juga otak—yang perlu dirangsang oleh buku-buku cerita.

“Bukan hanya menyehatkan fisik, tetapi juga mengembangkan daya imajinasi anak-anak yaitu dengan cara membaca buku,” kata Jodi, pria 23 tahun ini.
Bagaimana perbandingan antusias masyarakat di Kota Serang dan Menes?
“Mereka kaget, baru pertama kali ada perpustakaan keliling. Nanya baca gratis nggak? Namun sangat disayangkan yang baca kebanyakan anak-anak untuk remaja tanggung sibuk dengan main gadget,” katanya.

Kenapa anak-anak lebih dominan daripada anak muda?
“Rasa penasarannya lebih tinggi. Sayang sih berharap bukan sekedar perpustakaan Rumah Dunia saja nanti yang hadir di Menes tapi Pusling provinsi maupun pusling Pandeglang harus datang ke pelosok desa,” ujarannya.

Apa ada agenda Road Show kedepannya?
“Yang pasti ada agenda keliling provinsi Banten sampai keliling perdesaan. Mulai dari kota Serang, Pandeglang, Lebak, langsung ke Tangerang. Mungkin nanti bisa di list saja. Kita bukan dari instansi pemerintah jadi minta buat isi bensin dan perawatan bensin,” katanya.

Relawan Rumah Dunia menurut Jodi nantinya bukan sekedar lapakan buku melainkan akan mengadakan pelatihan menulis, pelatihan konten kreator, baca bersama, dan menggambar.

“Selain itu akan ada lomba-lomba menarik, boneka mendongeng, dan juga gemes untuk melatih kekompakan anak-anak dan memberikan apresiasi berupa hadiah buku. Terakhir, kamu juga akan membuat tulisan dan video agar masyarakat tahu kegiatan kami,” tandasnya. *



