Tapi, Mbok Wijah sudah berhenti berjualan serbaha. Sekarang dipegang Ibu Jasih (45) yang merupakan anak dari Mbok Wijah (90).

“Iya, dulu ibu saya yang jualan serbaha. Ibu mungkin sudah berjualan lebih dari 10 tahun. Tapi lama sekali sempat berhenti, karena sudah sepuh. Sekarang usaha serbaha diteruskan saya,” kata Jasih, saat saya menemuinya sedang membuat serbaha di Kampung Laes Kepaksan, Rt06/02, Desa Sukamaju, Kecamatan Kibin-Serang, Jumat (29/7/2022).

Orang-orang memanggil Jasih dengan sebutan Mbok Jasih. Ia memiliki 4 anak dan 6 cucu. Mbok Jasih mengaku sudah meneruskan usaha jualan serbaha ini sejak tujuh tahun lalu.

“Saya meneruskan usaha ibu sejak anak saya masih SMP sampai sekarang anak saya sudah menikah dan punya anak. Dari jualan serbaha harga per loyangnya Rp.500,- sekarang sudah Rp.2.500,- kalau satu tangkop Rp.5.000,-” paparnya.

Mbok Jasih mengaku, dalam sehari biasa membuat serbaha menghabiskan 7 hingga 10 liter beras. Bahan baku serbaha cukup mudah, beras yang digiling/ digelepung, kelapa, garam dan air. Untuk 7 liter beras, kata Mbok Jasih menggunakan 3 butir kelapa.

“Untuk 7 liter beras itu, sekitr dapat 40 tangkop serbaha. Atau 80 buah serbaha. Dari penjualan 7 liter itu, kadang Mbok dapat untung bersihnya Rp.150.000,- Alhamdulillah segitu juga cukup buat jajan anak dan buat biaya sekolah,” ceritanya.

Selepas suaminya meninggal dunia di Lampung sejak 2009 lalu, Mbok Jasih memang menjadi tulang punggung keluarga. Ia bercerita, mulai buka jualan serbaha dari Pukul 03.30 pagi hingga Pukul 10.00 WIB. Biasanya hari Minggu paling ramai pembeli, karena banyak orang-orang lewat lari pagi.

“Namanya juga jualan. Kadang laku semua, kadang masih banyak. Pernah Mbok hanya laku Rp.30.000,- saja. Kalau masih banyak Mbok akan muter ke Kampung Kompa, Kedaleman dan Kampung Pasir,” jelasnya.

Mbok Jasih juga kadang sering kebanjiran pesanan dari warga sekitar. Biasanya pesanan serbaha untuk acara hajatan atau selametan tujuh bulanan. Untuk rasa serbaha, Mbok Jasih mengaku baru membuat rasa original saja alias rasa gurih. Ia pernah mencoba serbahanya diberi rasa gula merah. “Tapi pas dikasih gula merah itu jadi lengket di kuali. Akhirnya ga bikin lagi,” pungkasnya.

Bagi pembaca yang ingin mampir dan mencoba mencicipi serbaha Mbok Jasih bisa langsung datang ke lokasi. Ayo kita dukung dan lestarikan salah satu makanan khas Kota Serang ini. Salam kuliner. *



