Surat dari Qatar: Sun Tangan dan Tradisi Minum Karak

Gamis Putih Hitam

Kalau berkunjung ke Qatar, pemandangan yang akan sering dilihat adalah laki-laki bergamis putih dan wanita memakai gamis hitam.

Laki-laki di Qatar, terutama yang merupakan orang asli selalu menggunakan pakaian panjang berwarna putih. Baju ini dinamakan Thoub, biasanya pakaian ini juga dilengkapi dengan sorbannya (Ghutra) dan lilitan atasnya yang hitam (Oogal). Pakaian ini tidak hanya dipakai oleh orang lokal saja, banyak  juga pendatang yang menggunakan pakaian yang serupa.

Tapi kalau pendatang seperti aku sih, walau pun sudah memakai setelan yang sama persis, tetap saja akan kelihatan berbeda. Hidung kurang mancung dan badan kurang tinggi.

Kebalikan dengan laki-lakinya, perempuan di Qatar berpakaian serba hitam, dari atas ke bawah. Pakaian yang disebut sebagai abaya ini dipergunakan sebagai pakaian luar. Di dalam abaya itu mereka tetap memakai pakaian biasa seperti, jeans, kaos, kemeja dan  lain-lain.

Karak

Kalau di Indonesia, minuman sejuta umatnya adalah Es Teh Manis, kalau di Qatar minuman sejuta umatnya adalah Karak.

Karak yang menjadi bagian erat dari tradisi di Qatar terbuat dari campuran teh, susu kental manis, air, teh, gula, dan kapulaga yang direbus bersama direbus dengan api kecil untuk memperkuat rasanya.

Kurang lebih rasanya seperti teh susu yang sangat pekat dan sangat manis. Satu gelas kecil biasanya seharga 1 Qatari Riyal atau 4000 Rupiah.

Hampir di setiap  RT (atau di Qatar namanya area) ada café-café kecil yang menjual Karak ini. Kadang disebut Karak, tau sering juga disebut Chai.

Di dekat rumah saja ada 4 tempat yang menjual Karak ini. Dan yang unik lagi,  ternyata  teh Karak ini bukan asli dari Qatar. Asal-usulnya dari Asia Selatan, dan meskipun teh yang kaya rasa dan susu ini sudah menjadi bagian dari tradisi Qatar sekarang, teh ini sebenarnya berasal dari India dan Pakistan . 

Dimana Karak ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka dan dikenal juga sebagai ‘Masala Chai’, diterjemahkan secara harfiah  sebagai teh dengan rempah-rempah, atau ‘Karak Chai’, secara kasar diterjemahkan sebagai teh kental dengan kata ‘Chai’ yang berasal dari kata Cina untuk teh ‘Cha’.

Teman kerja yang orang Pakistan di dalam sehari bisa meminum 10 sampai 12 gelas Karak/Chai ini. Ya, itu tidak salah membaca, dia memang bisa meminum Chai sebanyak itu.

Ketika diperingatkan bahayanya meminum terlalu banyak minuman sepekat itu, jawabannya: “Ini sudah tradisi aku, walau pun aku berusaha, tapi tetep ngga bisa kalau sehari ngga minum Chai (sebanyak itu)”. Di dalam bahasa Inggris tentunya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==