Bisakah cita-cita dan mimpi berganti?
Bisa dong!
Aku adalah contoh nyata manusia yang sering mengganti cita-cita dan mimpi.

Ketika masih berseragam Putih-Merah, karena pernah diajak Bapak ke tempat kerjanya di pabrik pesawat, cita-citaku adalah menjadi Insinyur Penerbangan. Sesudah berseragam Putih-Biru, cita-citaku berubah lagi menjadi tentara karena menonton acara yang meliput tentang SMA Taruna Nusantara.

Belum setahun berseragam Putih-Biru, mimpi itu masih ada tapi aku tunda dulu. Ada mimpi selingan. Hehehe.
Ketika teman-teman sekelas masih meraba-raba dan belajar bahasa Inggris, aku sudah bisa mengobrol lancar cas cis cus dengan guru bahasa Inggris. Sampai beliau memberi rekomendasi kepada pihak sekolah agar diikutkan dengan acara pertukaran pelajar SMP ke Australia.

Qodarullah walaupun sudah mendaftar, aku lupa penyebabnya, waktu itu tidak jadi berangkat ke Australia. Itulah (mimpi) merantauku yang pertama.
Di tahun kedua berseragam Putih Abu di SMK, keinginan untuk merantau itu timbul kembali, kali ini bukan ke Australia, tapi ke negeri Sakura.

Suatu hari, aku sedang berkunjung ke rumah sahabatku di sekolah.
Waktu itu ada pamannya yang berkunjung.
Itu adalah kedatangannya setelah dua tahun bekerja di Jepang. Dia membawa satu tas yang penuh padat dengan uang pecahan seratus ribu. Tidak hanya itu, dia juga membawa beberapa barang yang tidak pernah aku temui sebelumnya.

Yang paling kuingat adalah sebuah mini Home Theater. Mini ukurannya, tapi suaranya sangat dahsyat. Home Theater itu juga sangat canggih, karena bisa memainkan file musik dari disket, dan CD. Sesuatu yang pada tahun 1997 adalah hal yang futuristik.

