Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)

Ada satu petuah dari seorang ustadz juga yang berkaitan dengan memberi manfaat ini.
“Walaupun kamu belum bisa memberi manfaat untuk banyak orang, minimal buat keluarga kamu. Walaupun masih belum bisa juga, minimal kamu ngga merepotkan mereka, bisa menghidupi diri kamu sendiri”. Nasihat yang sederhana tapi sangat mengena.

Kesempatan untuk merantau langsung datang menghampiri di tahun terakhir sekolah.
Ada perusahaan petrokimia di Cilegon yang blusukan ke Bandung untuk mencari karyawan untuk ditempatkan di Merak, sebuah daerah industri petrokimia di Banten.
Qodarullah, itulah pertama kali aku merantau jauh, 250 kilometer. dari tanah kelahiranku di Bandung.

Awal dari perantauanku yang semakin jauh 6000 kilometer lebih ke arah Barat, bukan untuk mencari kitab suci, tapi untuk meraih mimpi yang ternyata kelak berganti lagi.
“Sesungguhnya saya melihat air yang tergenang itu pasti akan rusak, jika mengalir maka air tersebut akan baik jika tidak maka ia akan membusuk” (Imam Syafií).
Benarlah apa yang dituliskan oleh Imam Syafií di dalam syair-syairnya. Aku membuktikannya sendiri ketika membandingkan dan melihat lingkungan pergaulan dulu, dan teman-teman yang tidak merantau.

Qodarullah, Alhamdulillah, sekarang aku memiliki kehidupan yang lebih baik dari yang pernah kuimpikan. Memang belum sempurna, tapi jauh lebih baik dari sekadar “tidak menyusahkan orang tua”.
Jadi, kamu yakin masih di rumah aja?
(Tulisan ini ada di dalam buku “Merantaulah! Agar Kamu Tahu Arti Duit Seribu” yang bisa dibaca gratis di
https://rakata.id/story/13452)



