Pertama kali aku diperkenalkan dengan buku ini oleh pacarku. Ia merekomendasikan buku ini setelah selesai membaca buku The Gong Travelling. Namun saat aku ingin meminjam untuk membacanya, ternyata buku itu tidak ada.

Aku dibuat penasaran saat pertama kali tahu judul bukunya, karena dari pemilihan kata menunjukkan cita rasa kewanitaan. Selain judulnya yang menarik, design cover-nya pun tak kalah menarik dengan warna-warna pilihan yang estetik.
Dipekan terakhir tugas Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA), novel “Kesatria, Putri & Bintang Jatuh” karya Dee Lestari yang aku bawa sudah hampir selesai dibaca, dan memang ditargetkan untuk selesai selama KUKERTA.

Saat itu aku melihat story temanku, dia memposting buku yang sudah aku incar sejak lama itu. Aku me-replied storynya, berkomentar untuk meminjam jika ia sudah selesai membacanya, ternyata ia sudah tamat membaca buku The Traveller’s Wife.
Aku meminjamnya dan mulai membaca buku setelah pulang dari tempat KUKERTA. Ternyata rasa penasaran itu sangat terjawab saat aku mulai membacanya, hingga dibuat menangis ber-part-part. Part nangis yang paling berkesan adalah ketika aku membaca bagian “Dreams in My Boots” yang menceritakan tentang sandal baru yang kembar dengan sandal suaminya – Gol A Gong.

Di bagian ini aku merasa diajak untuk belajar menerapkan arti keikhlasan dari hal terkecil. Sepasang sepatu yang diinginkan bukan sepatu yang mahal dan branded, tetapi sepatu yang nyaman dan ikhlas ketika dipakai. Jika saat memakai sepatunya ada perasaan terlalu sayang karena harganya mahal, itu akan terasa membebani ketika melangkah. Terutama rasa takut kehilangan, rusak dan lain sebagainya.
Dari part ini aku mengerti bahwa setiap apapun yang kita miliki harus beriringan dengan keikhlasan agar ketika kemungkinan pahit yang terjadi kita tidak merasakan kesedihan yang mendalam.

Selain part itu, aku merasa tersentuh ketika cerita tantangan disetiap perjalanan ke beberapa negara. Rasa tawakkal dan yakin atas kekuasaan Allah yang ditanamkan selalu tumbuh, sehingga disetiap kesulitan yang dihadapi bisa dilewati dengan hati lapang.
Dari mulai visa, tiket pesawat dan rasa kerinduan pada orang-orang tersayang di tanah air.
Dari 7 negara yang dikunjungi aku sangat tertarik dengan negara India dan Dubai. Sejak dulu aku senang dengan film atau musik bollywood. mungkin bisa dikatakan penggemar Bollywood, ya, walaupun tidak terlalu banyak tahu tentang artis Bollywood.

Namun, aku sedikit kaget ketika membaca tentang kehidupan di India. Ada beberapa kota yang ternyata tak seindah di film india. Apakah aku akan tetap merasa tertarik untuk menyambanginya?
Sepertinya rasa penasaran itu akan terobati ketika kita bisa langsung mengunjunginya.
Begitu pula dengan Dubai beserta keindahannya. Aku merasa diajak jalan-jalan ketika membacanya. Semoga suatu saat nanti aku bisa pergi ke India, Dubai negara-negara lainnya. Aamiin.

Dari buku The Treveller’s Wife aku mempelajari banyak hal. Terlebih aku sebagai kaum hawa yang harus terus belajar untuk menjadi wanita yang penyabar dan memberikan keteduhan.

Dalam tulisannya Bu Tias Tatanka mencerminkan sifat-sifat itu. Selain itu aku juga bisa belajar tentang kesabaran, keikhlasan, cinta, tawakkal, selalu bersyukur dan yakin atas kekuasaan-Nya. *



