Toto ST Radik: Peramal Masa Depan

Seorang penyair harus memiliki pemikiran yang jauh ke depan. Sehingga puisinya tidak hanya memasuki ranah komunikasi dasar seperti yang disebutkan Laswell (who says what in which channel to whom with what effect) saja. Tetapi sampai juga pada hakikat komunikasi lainnya yaitu memengaruhi atau mengubah pemikiran dan prilaku seseorang.

Buku puisi Kepada Para Pangeran seperti sebuah buku nubuat. Penyairnya memberikan penjabaran tentang hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu yang sangat mungkin akan terjadi lagi pada masa depan. Bahkan beberapa hal yang diramalkan sudah bisa kita saksiskan kebenarannya saat ini. Seperti beberapa bait puisi berjudul Kelahiran berikut:


ternyata seluruhnya bukan mimpi
terang sudah kini: mereka, para pangeran,
menanti di titik kala
dalam kawal upacara

bersiaplah, pangeran
sebab ini awal perihmu yang panjang
menuju singgasana


Puisi tersebut seperti suatu ancaman bagi para pemimpin pemerintah (dalam hal ini disimbolkan dengan pangerang) yang harus bersiap menghadapi berbagai masalah pelik dalam kurun waktu yang panjang. Atau dapat diartikan juga sebagai peringatan kepada para pemimpin bahwa saat mereka terpilih menjadi penguasa pemerintah, maka saat itu pula keperihan menanti mereka. Namun biasanya yang disadari atau dilihat banyak orang, saat seseorang terpilih menjadi pemimpin maka kebahagiaan, respek, dan kebanggaan lah yang didapat. Di sinilah perbedaan mata penyair dengan mata orang-orang kebanyakan. Penyair akan lebih jeli mengasah cara pandang mereka.


Ketika penyair meramu atau mengolah puisi, maka segala diksi, majas, tipografi, dan serangkaian unsur lainnya, haruslah menjadi kesatuan yang utuh. Toto ST Radik selalu mengibaratkan puisi seperti gemblong, yang ditumbuk terus hingga benar-benar padat. Seperti itu lah semua puisi yang ada dalam buku ini, baik itu puisi-puisi pendek, atau pun puisi-puisi panjang. Dan hampir semua puisinya seolah hidup dan mengajak kita berkomunikasi memasuki ranah emosi yang sangat dalam. Kita akan ikut geram dan gelisah, kita tidak dibiarkan tenang oleh si penyair. Bahkan dalam beberapa puisi prosaic-nya seperti Bermain, Flu, dan Ketika Kau Lahir, kita seperti melihat sebuah film pendek yang benar-benar hidup dalam layar imajiner kita. Kita ikut gembira, haru, dan segala perasaan lainnya.

ibumu terbaring di ranjang menanti perut dibuka
aku merendam gundah di selasar, kaka tak henti bertanyatanya
tentang dirimu. saat itu pukul sebelas dan gerimis melebat
menerjuni malam. apa arti ketuban pecah? malam itu terasa
ngilu sekali, tubuhku seakan patah, seperti ranting yang lepas
dan remuk membentur batu


(Ketika Kau Lahir, hlm. 90)


Pada akhirnya, puisi haruslah ditulis dengan mengerahkan seluruh kekuatan jiwa dan raga, mengaduk emosi pembaca, dan tidak hanya menghanyutkan kita dalam kesenangan masa lalu, tapi juga meneror kita akan ancaman-ancaman masa depan. Dengan kata lain, puisi menjadi nubuat, dan penyair sebagai peramalnya.

Judul Buku : Kepada Para Pangeran
Penulis : Toto ST Radik
Penerbit : Gong Publishing
Tebal : 98 halaman


*Dimuat di Banten Raya, 17 Januari 2014

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==