Malam itu datang berita buruk. Mang Fadli, yang sebelumnya memimpin aksi protes di balai desa, ditemukan tak sadarkan diri di tepi pantai. Feri bergegas menuju pantai, diikuti para tetangga yang juga cemas. Ketika ia tiba, tubuh ayahnya sudah tergeletak, dikelilingi orang orang kampung. Wajah Mang Fadli pucat, tak ada lagi sisa-sisa kekuatan yang biasa terpancar darinya.
“Kenapa bisa begini?” tanya Feri panik. Salah satu tetua kampung, Pak Ade, menggeleng lemah.
“Dia bilang ada yang tak beres di laut. Semakin kita menolak, semakin besar tuntutan dari yang di sana.” Pak Ade menunjuk ke arah laut dengan wajah ngeri.
Feri terdiam. Di kampung ini, laut bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga rumah bagi kekuatan-kekuatan tak kasat mata. Selalu ada cerita tentang “penunggu laut” yang marah ketika keseimbangan terganggu. Tapi bagi Feri, semua itu adalah takhayul. Ia tak pernah benar-benar percaya.
Namun, malam itu, sesuatu di matanya berubah ketika ia melihat ayahnya tak sadarkan diri. Apakah perlawanan ini memang sia-sia? Apakah mereka, manusia biasa, benar-benar melawan kekuatan yang lebih besar?

“sudahlah, kita biarkan saja mereka, kita tidak melawan orang-orang besar iyu”
“tapi ini rumah kita, tempat kita mencari mata pencaharian, kalau ini digusur, kita mau makan apa?” suasana warga semakin tidak kondusif, hari-hari berikutnya diisi dengan ketegangan yang semakin memuncak. Orang-orang kampung terbelah antara yang mendukung proyek reklamasi dan yang ingin tetap mempertahankan laut seperti sediakala. Feri kini berada di tengah-tengah. Di satu sisi, ia melihat penderitaan ayahnya yang keras kepala, di sisi lain, ia merasa tergoda oleh iming-iming modernitas.
Konflik itu tak hanya di dalam hatinya, tapi juga antara dirinya dengan orang-orang di sekitarnya. Di satu pertemuan desa yang makin memanas, Feri berdiri dan berbicara di depan banyak orang, sesuatu yang jarang ia lakukan.
“Proyek ini akan mengubah hidup kita! Kalian semua tahu hasil tangkapan kita semakin sedikit. Apa kalian mau terus hidup begini, terbelakang dan miskin? Aku sudah lelah, dan kalian juga harus berhenti berpegang pada masa lalu!” teriak Feri, suaranya bergetar oleh amarah yang telah lama ia pendam.
Suasana ruangan hening sejenak, sebelum meledak dengan suara perdebatan. Pak Ade berdiri, matanya menatap Feri dengan tajam. “Kamu mau menjual kampung ini, Feri? Demi beberapa lembar uang? Kamu tahu, sekali laut kita diambil, kita tak akan bisa mendapatkannya kembali.”
Feri ingin membalas, tapi kata-katanya tertahan. Di balik kata-kata kasar Pak Ade, ada kebenaran yang tak bisa ia sangkal. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan kebutuhan mereka untuk bertahan hidup.
Malam itu, di rumahnya yang gelap dan sunyi, Feri mendengar suara tangis ibunya dari kamar ayahnya yang masih terbaring lemah. Hatinya semakin berat. Di luar, angin laut membawa suara debur ombak yang terdengar semakin menghantui.



