Pagi hari berikutnya, Feri berjalan ke tepi pantai. Laut tenang, tapi ada sesuatu yang terasa ganjil. Di bawah langit yang cerah, Feri merasakan kegelisahan yang terus merambat di kulitnya. Ia berdiri di sana, menatap laut yang seakan berbicara, menawarkan pilihan yang tak terucapkan.
Lalu, tanpa banyak berpikir lagi, Feri melangkah menuju perusahaan yang mengelola proyek reklamasi. Ia tahu keputusan yang akan ia ambil akan membelah kampungnya lebih dalam, tapi ini harus dilakukan
Di hadapan bos proyek, Feri mengajukan dirinya untuk menjadi bagian dari proyek itu meninggalkan tradisi, meninggalkan laut yang telah menjadi jantung hidupnya selama ini. Tapi dalam diam, Feri juga tahu bahwa pilihannya ini adalah “tumbal”. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk kampung yang akan kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar uang: identitas mereka.


Di hari pertama proyek dimulai, angin laut bertiup lebih kencang dari biasanya. Ombak menghantam pesisir dengan suara yang terdengar seperti amarah yang memuncak. Di tengah keramaian alat berat dan pekerja, Feri berdiri memandangi laut untuk terakhir kalinya sebagai seorang nelayan. Sesuatu di dalam dirinya telah terputus, tak ada lagi yang sama.
Dan di langit Serang yang mulai mendung, konflik yang ia coba selesaikan justru membuka jurang yang lebih lebar, baik di hatinya maupun di kampung tempat ia dilahirkan.
*Foto-foto ilustrasi adalah hasil dari Open AI.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


