Salah seorang pengunjung, Dede Irma (20) mahasiswi UIN Banten, yang berasal dari Cadasari menjelaskan bahwa ia baru mengetahui kegiatan perpustakaan keliling Rumah Dunia. “Saya taunya Rumah Dunia itu tempat belajar menulis saja, tidak tau kalau ada banyak agenda lainnya,” ujarnya. Di sisi lain, sebetulnya Dede juga tidak sengaja datang dalam kegiatan tersebut, melainkan diajak oleh teman kelasnya yang ikut kelas menulis Rumah Dunia.

“Seru banget, bener-bener ramah anak para panitianya, bukan cuma membaca tetapi ada mewarnai dan pendampingan literasi untuk anak” ucapnya. Dede menyadari bahwa anak-anak memiliki antusias yang tinggi untuk membaca buku, padahal sebelumnya ia mengira anak-anak zaman sekarang itu kurang tertarik membaca buku.

Dede juga berkesempatan untuk menyapa anak-anak, membantu untuk memilih buku bacaan anak, dan membaca beberapa buku yang tersedia di mobil pusling. “Tata letak buku harus diberikan label/penanda nama, dibedakan antara buku anak, remaja dan dewasa,” pesannya diakhir acara.

Berbeda dengan Ulhiyati (peserta Kelas Menulis Rumah Dunia), seorang mahasiswi UIN banten juga. Ia mengatakan bahwa buku yang tersedia dalam mobil harus diganti dengan yang baru, serta diperbanyak buku bacaan untuk tingkat remaja. “Saya melihat ada beberapa buku sudah berdebu, robek, dan terkena air hujan.” Namun ia sendiri merasa sangat bahagia bisa mengikuti rangkaian acara tersebut, apalagi saat melihat anak-anak tertawa, bercanda, dan bermain bersama.




