Wulan Kartika Sari, Guru SMP Daar El Latief mengatakan bahwa kunjungan ini sudah menjadi agenda rutin tahunan sekolah untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan siswa dengan berlandaskan kompetensi dasar.

“Kunjungan hari ini ke Rumah Dunia adalah upaha kami untuk meningkatkan literasi siswa-siswi. semoga setelah kunjungan ini, teman-teman siswa termotivasi untuk membuat cerpen, puisi dan tulisan yang lainnya,” harap Guru Bahasa Indonesia itu.

Acara itu dibuka dengan penampilan Jang Rudun, Maskot Rumah Dunia yang membaca puisi dengan gaya hiburan dan pembacaan puisi oleh Abdul Salam.

Sebelum mengisi workshop menulis puisi, Abdul Salam mengenalkan sedikit sejarah Rumah Dunia dan mengenalkan soal literasi ke siswa-siswi SMP Islam Daar El Latief.

“Ada 6 literasi dasar yang teman-teman harus ketahui dan kuasai yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan,” kata Salam kepada siswa-siswi.

Setelah menjelaskan literasi, Abdul Salam memberikan workshop menulis puisi. Menurut Salam, Puisi adalah daya cipta yang lahir dari pikiran, perasaan manusia yang dituliskan lewat kata-kata yang terpilih (diksi) dalam bentuk larik dan bait.

“Untuk bisa menulis puisi, seseorang harus memiliki kemampuan berbahasa dan memiliki kemampuan menulis. Selain itu, harus memiliki kepekaan dalam melihat situasi sosial di masyarakat. Jika kita tak memiliki hal itu untuk bisa menulis puisi rasa-rasanya akan sulit,” jelas Presiden Rumah Dunia itu.

Abdul Salam juga memberi latihan menulis puisi kepada siswa-siswi, ada 4 tahap latihan menulis puisi. Pertama adah memilih kata yang berakhiran U dan A, setelah memilih 10 kata siswa-siswi diminta untuk membuat frasa dengan menggabungkan kata yang sudah dipilih tadi dengan kata yang lain sehingga menghasilkan makna.

“Tugas seorang penyair itu menemukan, bukan mengikuti yang sudah ada. Maka butuh keberanian untuk menggabungkan satu kata dengan kata yang lainnya untuk mendapatkan makna baru,” kata penyair yang pernah meraih Anugrah Penulis Terbaik se-Banten (2015) itu.

Setelah berhasil membuat frasa, siswa-siswi dilatih untuk membuat satu bait puisi dengan kata yang ditentukan. Dan tahapan akhirnya membuat puisi utuh dari gambar yang tunjukkan.

“Wah, semuanya keren sudah bisa membuat puisi. Berarti apa yang di sampaikan Kak Salam diterima oleh adik-adik,” puji Salam dengan wajah gembira.
Kegiatan itu diakhiri dengan penampilan siswa-siswi yang membacakan puisi karyanya sendiri hasil pelatihan dan pembagian doorprize berupa buku dan coklat. *



