Beruntung, ada beberapa pegawai Perpusnas yang berbaik hati meminjamkan tempatnya untuk kami. Dengan sedikit rasa tidak enak karena khawatir mengganggu pekerjaan staff di sana, aku memulainya dengan satu pernyataan.
“Boleh saya tahu karya tulis apa saja yang pernah Mas Yanuar lahirkan,” tanyaku.

“Baik, saya sudah menulis lebih dari 80 buku, tapi kalau dihitung-hitung bisa sampai 100. Buku itu ditulis oleh sendiri, kadang berdua, bertiga, atau lebih sering antologi,” katanya.
Aku kaget sekali dengan jawabannya yang telah melahirkan lebih dari 80 buku bahkan bisa sampai 100. Aku berpikir, jangan-jangan dia murid kesayangan Ahmad Kindi – salah satu orang yang pernah menghebohkan dunia Facebook karena mengaku bisa menulis 1 hari 1 buku.

Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, aku mencoba mengejar pengakuannya tadi bahwa dia telah melahirkan 100 buku. “Apa yang membuat Mas gemar menulis dan bisa melahirkan banyak sekali buku, bahkan tadi melahirkan puluhan buku?” Tanya saya.

“Yang pertama saya lahir di kampung. Rumah saya itu di Tobelo, Halmahera Utara itu lokasinya dekat dengan pulau Morotai. Dulu, pulau itu menjadi basisnya pasukan sekutu saat perang dunia kedua. Ke atasnya lagi itu Philippina. Jadi saya dibesarkan di kampung,” ujarnya.

“Sebagai orang kampung saya juga pengen mengenal dunia tidak sekedar mengenal daerah saya sendiri. Akhirnya ketika kuliah di Universitas Hasanuddin, saya melihat banyak tulisan senior dimuat di majalah dinding maupun koran. Masa mereka bisa, saya nggak. Saya akhirnya menulis baik di koran kampus sampai lokal,” sambungnya.
Yang lebih menarik, Yanuardi ternyata termotivasi oleh Gol A Gong. Pada saat itu Gol A Gong dengan Asma Nadia membedah buku di Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan. Yanuar banyak menyimak penjelasan para pemateri hingga terpikir olehnya bahwa dirinya pun mampu seperti Gol A Gong yang juga banyak melahirkan karya.

Pria kelahiran 13 Januari 1981 ini menceritakan kepadaku tentang karya pertamanya dengan sangat dramatis. Sebelum meninggal istrinya, ia sempat menulis kumpulan cerita dan kemudian ia perlihatkan kepada istrinya yang sedang mengandung 4 bulan itu. Puji Tuhan, istrinya memuji bahwa itu adalah karya yang baik. Namun tak lama, Yanuardi ditinggal untuk selamanya.

“Dengan kondisi ditinggal oleh istri, saya berpikir apakah bisa melakukan sesuatu? Akhirnya saya memutuskan menulis satu buku dalam waktu satu Minggu. Kalau buku ini tidak jadi selama satu Minggu, maka saya akan mengatakan bahwa saya adalah laki-laki paling gagal di muka bumi. Saya mengetik setiap waktu: pagi, siang, malam. Hari keenam buku itu jadi,” katanya.
Beruntung, buku yang ditulisnya dengan waktu yang sangat singkat itu disukai oleh para pembaca. Yanuardi mengaku tulisannya bisa mendapat pujian karena ditulis dengan penuh emosi. Dia beri judul buku itu Menemani Bidadari Suara Hati, Suara Mahasiswa.

“Apa motivasi Mas Yanuardi melahirkan begitu banyak buku?” Tanyaku.
“Saya senang belajar dan senang berbagi. Ya walaupun orang yang berbagi sering dikecewakan. Saya membuat tulisan tentang apa saya dan kadang membaginya di Facebook. Saya baca, saya ngerti, saya tulis, lalu share kepada pembaca,” katanya.

Materi dan Khidmah Kepada Allah
Walaupun Yanuardi banyak menulis buku, tapi aku sempat bingung kenapa tidak pernah mengetahuinya sama sekali. Aku belum mengenal orangnya bahkan juga tulisannya di media sosial. Untuk itu aku tanyakan, “apakah buku Mas Yanuardi ada yang best seller dari puluhan atau 100 buku tersebut?” Tanya saya dengan rasa penasaran.

“Pernah buku saya ada di Gramedia dan ditempatkan di deretan best seller. Tapi saya tidak pernah memperhatikan apakah buku saya best seller maupun tidak. Intinya saya ingin terus berbagi,” katanya.
“Saya tidak pernah berharap kepuasan materi. Yang terpenting adalah Khidmah Kepada Allah. Oh iya, saya pernah menulis khusus untuk penulis muslim yang berjudul Menulis di Jalan Tuhan. Buku saya juga ada beberapa yang sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa, misalnya Jalur Rempah. Itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, China, dan lainnya,” sambungnya.

“Kalau begitu dari mana Mas Yanuardi menghidupi keluarga? Mohon maaf, bisa dikatakan hidup para penulis itu memprihatinkan. Banyak sastrawan besar yang beralih ke berdagang lantas mas sendiri bagaimana?” Tanyaku.
“Cara menghidupi diri saya tidak dengan menulis tapi saya jadi dosen PNS di Universitas Khairun, Ternate. Yang lebih penting itu menghidupi semangat dalam pikiran. Saya menulis buku, saya juga menjadi penasehat di beberapa kegiatan. Terlibat dalam kegiatan Kementerian Pendidikan, dan terlibat proyek lainnya seperti menulis G20,” katanya.

Yanuardi Syukur dia selalu ingin berbagi pengetahuan kepada siapapun. Yang intinya harus terus menebar manfaat kepada sesama. Satu hal yang perlu diketahui, dia juga banyak menulis tokoh nasional maupun internasional. Anda tahu Anis Baswedan? Yanuardi menulisnya sejak Anis jadi rektor di Paramadina. Judul bukunya Anies Baswedan Mendidik Indonesia.

Selepas dari wawancara, aku banyak mencari tahu siapa sebetulnya Yanuardi Syukur dan aku juga mencari namanya di Market Place—dan benar, buku-bukunya sudah sejak lama beredar hanya aku saja yang miskin referensi. Tabik!*


