Cara mendirikan taman bacaan masyarakat Rumah Dunia itu pelan-pelan, menunggu dulu respon dari masyarakat. Ada banyak TBM yang saya temukan dengan konsep tergesa-gesa alias instan. Baru berdiri langsung diresmikan. Itu contoh taman bacaan masyarakat yang salah. Biasanya itu terjadi karena di dinas terkait ada oknum orang dalam yang mengetahui persoalan anggaran kemudian kongkalikong. Setelah dana diserap, TBM diresmikan, dana dipakai untuk kegiatan taman bacaan, kemudian dana habis TBM pun hidup segan mati tak mau!

Jadi, bagaimana Rumah Dunia bisa bertahan? Saya menerapkan Konsep 7 Pilar Taman Bacaan Masyarakat. Apa itu?
Pertama: base camp atau sekretrariat. Saya banyak menemukan taman bacaan itu di teras rumah atau di ruang tamu dan keluarga, sementara pemilik rumah berbagi tempat. Sungguh membuat terharu. Tapi saya menyarakan agar TBM itu di luar rumah, di halaman, di kebun, atau di mana saja asalkan jangan di dalam rumah. Kenapa? Saya sering menemukan warga yang ingin membaca jadi sungkan dan rikuh.

Kedua: SDM atau relawan. Namanya relawan, jadi jangan berharap mendapatkan imbalan materi. Tapi ada timbal baliknya di Rumah Dunia, yaitu kami memberikan ilmu sastra, jurnalistik, dan film kepada relawan supaya bisa mandiri. Setelah lebih dari 20 tahun Rumah Dunia berjalan, manfaat taman bacaan masyarakat yang berada di Serang-Banten untuk relawan sangat terasa. Banyak relawan yang sudah memnfaatan ketiga disiplin ilmu itu untuk menafkahi diri dan keluarganya.

Ketiga: program. Reguler dari Senin hingga Minggu, dimulai sepulang sekolah. Sepanjang saya aktif di dunia literasi, banyak para pengelola TBM mengeluhkan hal sama, yaitu sepi pengunjung. Saya sering membagikan pengalaman, bahwa nama-nama programnya selain edukatif juga harus rekreatif dan inovatif. Penamaannya pun jika untuk anak-anak menggunakan “wisata”. Misalnya wisata baca, wisata dongeng, wisata studi.

Untuk umum (pelajar, mahsaiswa, dan guru) ada kelas menulis, diskusi literasi, dan pelatihan menulis. Nah, pelatihan menulis adalah program unggulan bagi para relawan. Tentu koleksi buku juga harus mendukung program.



