Setiap bangun di sepertiga malam, aku tidak kembali tidur hingga matahari terbit menghangatkan bumi. Bentuk rasa syukur yang aku lakukan adalah dengan bersujud dan kemudian merawat kebiasaanku, yaitu menulis. Di era digital ini, areal menulisku semakin luas; di FB, IG, WAG, dan tentu mengisi kategori-kategori di website personal literaturku – golagongkreatif.com. Dengan cara begini, aku mencoba menghindari kepikunan dan tentu gejala post power syndrome. Sekarang, aku tersadar, bahwa ini adalah hari kelahiranku, 15 Agustus 1963 – 15 Agustus 2022. Izinkan aku membongkar dokumentasi foto-foto saat kecil di Museum Literasi Gol A Gong.



Tangan sebelah kiri yang telah diamputasi, tentu tidak akan panjang lagi. Namun tangan kanan yang masih utuh, terus digunakan oleh kang Gong untuk menulis karya-karya hebat sebagai perpanjangan tangan yang menjangkau masa, ruang dan waktu.
Saya tak mampu berkomentar. Hanya dada bergemuruh dengan linang air mata. Apalagi ketika anak. Laki laki kecil menanyakan tangan yang baru diamputasi. Seketika teringat wajah nenek. Pasti pada waktu itu nenek berbohong, sambil menutupi air matanya demi anak tetap bahagia. Sampai saat ini pun kadang rasa salut bercampur bangga. Sementara saya yang normal saja terkadang menulis naik turun. Kebanyakan turunnya ketimbang naiknya. Selamat ulang tahun yang ke 59 mas. Sehat selalu.
Sangat menginspirasi semangat Duta Baca Indonesia , tak kenal lelah terus bergerak berbagi hal hal baik . Menantang untuk kami yang didaerah tetap bergerak ditengah keterbatasan.
Masa lalu yang heroik melampaui batasan diri, terkadang membuat kita yang diberikan jasmani lengkap jadi merasa menderita dihadapan semangat juang Mas Gola Gong . Namun dari itu memicu semangat kami untuk juga mau bergerak dalam dunia literasi untuk kemajuan negeri yang sama sama kita cinta Indonesia tercinta .
Gola Gong adalah Pahlawan Literasi sesungguhnya. Di era saat ini dan masa depan .