Jangan Lempar Batu Sembunyi Tangan

Bagaimana caranya membangun karakter tokoh baik atau jahat? Kita harus meluaskan cakrawala berpikir kita. Misalnya peribahasa “lempar batu sembunyi tangan” melukiskan karakter atau perilaku seseorang yang melakukan perbuatan tertentu—biasanya negatif dan merugikan orang lain—lalu berusaha menyembunyikan dirinya atau tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya. Ini menarik untuk dijadkan tokoh antagonis dalam novel kita.

Ini sebetulnya ciri-ciri orang munafik. Dia melakukan sesuatu untuk menyakiti orang lain tapi kemudian pura-pura tidak tahu. Ini sudah Allah katakan dalam Juz 5 Surat An Nisa’ Ayat  112 tentang Lempar Batu Sembunyi Tangan:

(وَمَن یَكۡسِبۡ خَطِیۤـَٔةً أَوۡ إِثۡمࣰا ثُمَّ یَرۡمِ بِهِۦ بَرِیۤـࣰٔا فَقَدِ ٱحۡتَمَلَ بُهۡتَـٰنࣰا وَإِثۡمࣰا مُّبِینࣰا)

Artinya : Dan barang siapa berbuat kesalahan atau dosa, kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

Ayat ini bisa jadi karakter tokoh kiyai atau ustadz , yang menasihati tokoh natagonis. Allah menyatakan barangsiapa yang melakukan dosa besar ataupun dosa-dosa lainnya, lalu menuduh orang-orang baik yang tidak berdosa yang melakukan dosa tersebut maka ia menanggung dosa terhadap tuduhan tersebut, dan telah melakukan kesalahan yang fatal dan nyata. Ini jadi muatan atau latar belakang si tokohnya.

Tim GoKreaf/AI/dari berbagai sumber

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==