Tadinya Overthinking ke Rumah Dunia tapi Kemudian Optimis

Oleh Nurrohma Aini – Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan ke-41

Ini Hari pertamaku mengikuti kelas menulis, Minggu 16 Februari 2025. Sebelumnya Aku ragu-ragu untuk ikut kelas ini. Keragu-raguan itu datang karena overthinking tentang tugas yang akan semakin banyak jika aku mengikuti kelas menulis ini. Sebagai mahasiswa baru aku masih perlu banyak belajar adaptasi dan memanage waktu.

Aku ragu bisa mengerjakan semuanya dengan baik, namun setelah berbincang lebih jauh dengan dua temanku yang sejak hari sebelumnya sudah merencanakan untuk pergi ke Rumah Dunia. Itu membuatku yakin untuk tetap mencoba. “Ah, minggir kau jiwa pesimisku! Menyebalkan!” umpatku dalam hati.

Akhirnya aku putuskan untuk ikut pergi ke KRumah Dunia untuk mengikuti pertemuan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke-41 bersama 2 temanku. Jarak dari tempat kami ke rumah dunia bisa dibilang tidak dekat namun tidak jauh juga.

sesampainya di sana ada ka fazri jadi MC yNg juga memperkenalkan kak Rudi Rustiadi sebagai Presiden Rumah Dunia 2025-2030. Lalu dilanjutkan dengan sesi perkenalan para peserta kelas menulis sambil menunggu para mentor datang.

Setelah para mentor berdatangan, mereka memperkenalkan diri. Mulai dari Pak Toto ST Radik, yang juga salah satu pendiri, mas Firman, mas Qijing, mas Jordi, ka Ade Ubaidil, mas Gong sebagai pendiri Rumah Dunia dan beberapa mas-mas lainnya dengan pengalaman yang menakjubkan.

Dari pengalaman para mentor yang diceritakan pada forum tadi pagi ada beberapa kata-kata yang menambah motivasi. Ada dari pak Toto yang bilang, “Kalo hari ini gabisa nulis 1 cerita berarti harus bisa 2, kalo 2 ga bisa berarti harus bisa 3, dan seterusnya.” Berpikiran optimis jangan malah dibalik sedangkan yang biasanya aku lakuin malah kebalikannya. “Kena mental aku,” ucap hati kecilku.

Ada juga dari mas Ade Ubaidil yang bilang “Kalo mau nulis itu jangan pikirin mulai dari mana, tapi mulai tulis dulu nanti juga terpikirkan tapi tentunya tanpa baca sebelumnya pasti buntu, entah baca buku atau dengan meromantisasi setiap kejadian di sekitar.”

Dan kata mas Gong yang bilang, “Mau nulis itu dimulai dengan metode jurnalistik karena metode jurnalistik mengajarkan berpikir kritis dan wafak saya adalah 5W1H.”

Aku baru tau kalo menulis itu bukan cuma dengan ngelamun dan mengkhayal. Ternyata malah banyak terjun buat cari inspirasi. Dan terakhir yang pengen aku ceritain di sini, aku ga nyangka ketemu sama mas Ade Ubaidil pemilik rumah baca Garuda yang ada di deket ponpes tempat aku nuntut ilmu. Aku sering baca buku-buku dan pinjam dari rumah baca itu tapi ga pernah ketemu sama mas pemiliknya. Biasanya ketemu sama ibunya yang lembut dan baik banget setiap aku mau pinjam buku , eh sekarang aku ketemu langsung sama pemiliknya di rumah dunia.

Yang bikin aku berkesan banget, orang- orang hebat di Rumah Dunia ini murah hati dan mau bimbing kita yang bukan siapa-siapanya dengan senang hati. Aku merasa tingginya nilai kemanusiaan di sini. Aku ga salah ikut ke sini.

Aku yang terpantik untuk belajar hal baru ini karena baca beberapa karyanya buya Hamka. Beliau yang semasa hidupnya tak pernah kutemui, tentu aku belum lahir saat beliau hidup di dunia ini namun karyanya membuatku sadar bahwa hidup hanya sebentar maka ukirlah kenangan sebaik mungkin dengan tulisan seperti yang beliau buat.

Dan hari ini di Rumah Dunia, aku bertemu dengan orang-orang hebat yang sedang berusaha mengukir sejarah hidupnya. Masyaallah keren-keren bangeeeet.😍

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==