Begitu anak-anak mulai bisa meraih kunci, kami melatih mereka menutup dan membuka kunci. Hubby aku malah pura-pura lupa mengunci kamar bersama anak-anak saat aku mau masuk. Lalu anak-anak yang masih kecil disuruh membuka anak kuncinya.

Kami berusaha agar saat kondisi terkunci dalam kamar tidak menjadikan anak panik. Nah, ini rupanya kejadian beneran saat salah seorang anakku usia tiga tahun dan sedang iseng-isengnya.

Alhamdulillah, dengan tenang kami menghadapi kejadian itu, dan akhirnya bocah mampu memutar kunci dan membuka pintu. Kami menyambutnya dengan gembira, memeluknya dan memberi apresiasi. Bukan penyambutan karena dia telah berhasil selamat dari sebuah peristiwa mengharukan. Kami tidak ingin dia jadi trauma.

Malah kami melakukan rekonstruksi bagaimana dia bisa terjebak dalam kamar. Bersama hubby, si bocah masuk kamar dan menunjukkan kemampuannya mengunci dengan gembira. Lalu dia memeragakan kemampuannya membuka kunci kembali.

Kami memberi selamat dan mengingatkan hal itu jangan diulang lagi karena bukan sebuah permainan. Intinya kami ucapkan selamat dan bersyukur anak kami mampu membuka kunci. Setelahnya diam-diam kami melepas semua kunci kamar dan menggantungkannya di tempat yang lebih tinggi dari jangkauan anak-anak. 😂



