Balada Si Roy: Benar-benar Balada

Dullah yang punya segalanya pun melakukan segala cara untuk menyingkirkan Roy. Dan di Anyer, ia bersama geng Borsalino-nya, menghajar Roy dan pertarungan itu memberikan lubang luka yang lebar bagi Roy. Di sinilah lagu sedih atau balada mulai muncul pada diri Roy lalu merembet ke mana-mana. Roy jadi lebih suka bolos sekolah, pulang malam karena mabuk di diskotik, balapan liar, dan bersama geng RAT-nya ia lebih sering baku hantam dengan Borsalino. Namun di saat yang bersamaan jiwa kritisnya makin terasah tajam: ia suka menulis esai di koran, mengkritik kehidupan sosial yang feodalistis, menggugat para penguasa dan menagih keadilan.

Perseteruannya dengan Dullah terus berlanjut. Kepedihan demi kepedihan silih berganti menghampiri Roy. Kisah cinta segi empat, santet-pelet hingga tindak-tanduk kotor penguasa pun tersaji dalam film ini.

Saya, meskipun telah menamatkan membaca novelnya, saat menonton film yang diproduksi IDN Pictures tersebut, turut merasakan kepedihan yang dialami remaja gondrong yang suka memakai jaket-jins belel itu. Betapa pedih hidup seorang yang lahir dari keluarga yang kritis di tengah sistem feodal. Terus terang, saya menjadi sangat empati kepada Roy.

Dari film yang dialog-dialognya diselingi bahasa Sunda-Banten itu kita bisa melihat bahwa Roy adalah sosok remaja bandel yang hidupnya kelam jika dilihat hanya dari luar, tetapi ia adalah manusia yang sangat malang namun teguh jika dilihat dari dalam. Benar-benar balada. Kendati demikian, penonton takkan menjadi cengeng dan lemah setelah menonton film ini, melainkan menjadi kuat dan tegar, setegar Roy.

*) Ardian Je, pembaca Balada Si Roy.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==