Judul cerpen “Gara-gara Gol A Gong” ditulis Endry Paijo Sulistyo. Saya tidak tahu, apakah Endry memiliki ayah yang hilang seperti yang ia tulis di cepen itu atau dia mengumpulkan cerita-cerita dari pembaca Balada Si Roy.
Di dunia nyata, saya menyetop menulis Balada Si Roy, karena banyak orangtua (ibu) yang memprotes, gara-gara buku BSR, anaknya memilih bertualang daripada sekolah. Ibu-ibu dari Kalimantan paling banyak memprotes.
Tahun 1990-an adalah tahun Balada Si Roy. Paling mengejutkan adalah ketika malam hujan deras. Saya membuka pintu rumah orangtua saya di Kota Serang ketika terdengar suara ketukan di pintu. Seorang remaja berdiri dengan gembira dan berseru “Saya dari Banyuwangi! Saya tidak naik kelas seperti Roy!” Beruntung sekali remaja itu. Saya sedang ada di rumah. Biasanya Emak menyarankan ke rumah Toto ST Radik – penulis puisi-puisi di awal episode Balada Si Roy – jika saya sedang tidak ada di rumah.

Ketika saya memberi materi di sebuah pelatihan di Bandung, seorang anak muda menghampiri saya ke meja pemateri di depan. Termasuk nekat. Disaksikan para peserta diskusi, anak muda itu mengepalkan sebuah amplop sambil berbisik pelan, “Ganja.”
Di banyak kota, para pembaca yang menganggap dirinya seperti tokoh Roy yang senang naik gunung atau traveling daripada pergi sekolah, mendatangi saya di hotel dan mengajak pesta minuman atau ganja. Para pembaca menganggap tokoh Roy adalah penulisnya. Bagi saya ini adalah keberhasilan riset. Balada Si Roy saya tulis (melalui iset) dari 1981-1987.

Hasan Aspahani pernah menanyakan hal serupa di Tanjung Pinang, saat Temu Sastrawan Indonesia. Tahunnya saya lupa. Mungkin 2012. “Jika angka 1 hingga 10, Mas Gong ada di mana dalam Balada Si Roy?” tanya Hasan – pembaca garis keras Balada Si Roy.
Saya termenung. Beberapa saat berpikir. Saya jawab, “Di angka empat!”
Setelah Balada Si Roy saya hentikan pada 1994, di beberapa kesempatan saya banyak menemukan hal serupa yang cukup mengagetkan.

Dalam sebuah diskusi di UI, Depok, Jakarta. Saya, Dee, Richrad Oh jadi pemateri. Seorang dosen filsafat dengan berkelakar meminta pertanggungjawaban kepada saya, “Kenapa Gol A Gong berpindah genre dalam menulis novel? Saya tersesat ke filsafat, gara-gara membaca Balada Si Roy.”
Saya tidak bisa menjawab. Dee yang membantu menjawab, “Kita haus menyemangati Gol A Gong agar terus menulis. Itu yang penting. Jangan sampai Gol A Gong berhenti menulis.”

Ada yang jadi petani seperti Roy. Di ending ceritanya, Roy jadi petani di Banten Selatan. Kalimat terakhir yang saya tulis di jilid ke-10 Epilog:
Jika kamu melihat seorang lelaki berambut gondrong, bertelanjang dada sedang membajak sawah, panggil dia “Roy”. Dia akan menoleh.

Rupanya kalimat terakhir itu banyak memengaruhi orang. Betul kata Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpusnas RI, “Satu peluru bisa membunuh satu orang, satu buku bisa memengaruhi milyaran orang.”
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah film Balada Si Roy tayang di bioskop September atau Oktober 2022 nanti.

Fajar Nugros sebagai sutradara dari IDN Pictures mengatakan, “Selesai nonton, para cewek akan bilang ke pacarnya, ‘jangan pergi kayak Roy’, ya.”
Kita tunggu filmnya, ya.
Gol A Gong*


Terima kasih Bang sudah menginspirasi