“Bikin konten di YouTube sama TikTok, Bu. Sudah dimonetisasi.”

“Apa itu monetisasi?”

“Artinya YouTube dan TikTok Romli sudah bisa dapat uang, Bu.”

“Oh, gitu, ya. Kayak Atta Halilintar?”

“Iya.”

“Wah. Anak Ibu hebat. Ditabung uangnya, ya.”

“Iya, Bu.”

“Lulus SMA kamu terusin kuliah, ya. Jangan seperti bapakmu. Mantan preman pelabuhan.”

“Iya, Bu. Pasti.”

Bik Enjum bangga dengan puteranya yang tidur sangat pulas di depan TV. Puteranya ganteng dan di sekolahnya bintang pelajar terus. Perempuan berumur 40 tahun itu berharap puteranya bisa sukses, jangan seperti dirinya yang hanya jualan nasi uduk di pelabuhan dan suaminya jadi satpam.

“Bangun,” Bik Enjum menepuk pundak Romli lembut. “Pindah ke kamar, sana…”

Romli bangun dan tanpa banyak bicara bangkit, berjalan dengan mata tertutup ke kamarnya.

Terdengar pintu depan diketuk perlahan. Bik Enjum membukamya, suaminya berpakaian seragam satpam muncul. Bik Enjum mencium punggung tangan suaminya tapi suaminya malah menarik tubuhnya dan menciumi bibirnya.

“Ih, Mas! Bau rokok, tau! Bau debu! Bau ikan! Bau segala rupa! Mandi dulu, sana!”

“Iya, ya,” Mas Satpam mencolek pantat Bik Enjum. “Bikinin kopi, ya. Panas!” dia membuka kemeja seragamnya. Dada dan bahunya yang bertato harimau membuat hati Bik Enjum berdesir.

Mas Satpam bersiu-siul ke kamar mandi. Bik Enjum menyeduh kopi. Tapi tiba-tiba pintu rumah kontrakannya digedor. Ketika Bik Enjum membuka pintu, beberapa polisi langsung masuk, menggeledah.

“Mas!” Bik Enjum berteriak memanggil suaminya.

Suaminya yang hanya melilit tubuhnya dengan handuk tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi.

“Ada apa ini?”Mas Satpam bingung.

“Oh, banyak tatonya! Jangan-jangan bandar juga bapaknya!” polisi yang lain memeriksa tato di dada dan bahu Mas Satpam.

“Saya, saya satpam di pelabuhan, Pak,” Mas Satpam mencari-cari kaos di tempat cucian.

“Mana anaknya?” seorang polisi menunjukkan foto. Dua polisi lainnya menggeledah seisi kamar.

Bik Enjum dan Mas Satpam saling pandang. Tidak lama dari kamar belakang dua polisi menggiring Romli yang masih mengantuk tapi tampak tegang.

“Anak Bapak dan Ibu terlibat penjualan narkoba,” barang bukti seplastik ganja kering dan sabu-sabu  diperlihatkan.

Romli menangis dan berlari menubruk kaki Bik Enjum, yang terduduk lemas. Mas Satpam menghempaskan tubuhnya. Mereka merasakan langit runtuh.

*) Café 777, Rote Ndao, 1 Juni 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==