“Alhamdulillah, kita sebentar lagi memiliki gedung perpustakaan yang megah. Itu berkat bantuan Dana Alokasi Khusus yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Fasilitasnya lengkap dan nyaman karena bukan hanya bantuan pembangunan gedung saja melainkan dengan isinya juga,” jelas Sulastri sebelum membuka acara.


Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Abdullah Saneng dalam sambutannya mengingatkan para peserta untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya masyarakat Flores Timur dengan banyak membaca. Hal itu dalam rangka menyambut Indonesia Emas tahun 2045.
“Masyarakat Flores Timur harus menjadi masyarakat yang kompetitif, unggul, berdaya saing, dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi. Kemampuan tersebut bisa diperoleh dengan membaca. Ingat persaingan di tahun 2045 itu tidak mudah,” jelas Abdullah saat memberi sambutan.







Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Flores Timur, Marianus Nobo Waton menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini di antaranya adalah untuk mendorong minat membaca dan menulis masyarakat Flores Timur.
Selain itu mempromosikan produk dan jasa yang dihasilkan Perpustakaan Nasional. Hal lainnya adalah menyelaraskan program kerja Perpustakaan Nasional dan daerah, serta memperkuat jalinan kerjasama antara Perpustakaan Nasional dan daerah.

Acara Bincang-bincang Bersama Duta Baca Indonesia di Flores Timur membahas seputar strategi meningkatkan budaya baca, dan gerakan literasi di Flores Timur.
Acara tersebut diisi oleh narasumber Maksimus Masan Kian (Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Flores Timur), Zaini B. Ratuloli (Ketua Forum TBM Flores Timur), dan Laurensius Yitno Wada (Staf Ahli Bupati Flores Timur Bidang Ekonomi dan Pembangunan). Acara dipandu oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong.



Bincang-bincang dilaksanakan secara hybrid, 200 peserta onsite, dan 1500 peserta melalui zoom dan siaran langsung YouTube PAPPBB. Peserta onsite merupakan perwakilan dari pustakawan, guru, mahasiswa dan pelajar dari jenjang SD hingga SLTA.




Setelah itu Duta Baca Indonesia memberi pelatihan menulis potensi daerah dan kearifan lokal pada 20 peserta. Acara berlangsung di SMAK Santo Fransiskus Asisi Larantuka.
Para peserta penulisan konten lokal Flores Timur berkumpul bersama Duta Baca Indonesia untuk membahas hal ihwal penulisan konten lokal, sebagai upaya untuk mencatat potensi daerah lewat tulisan.








