Tentu sama-sama kita ketahui juga mas Gong bisa berdiri dan berjuang saat ini karena beberapa hal. Dimulai sejak kehilangan tangannya, yaitu membina tubuhnya bersama ayahnya dengan berolahraga, ia bina otaknya dengan membaca dan ia sempurnakan pendengaran dan imajinasinya dengan mendengarkan ibunya mendongeng sebelum tidur.

“Syarat mutlak menulis juga tentu harus membaca,” katanya. Ini menjadi hal yang banyak orang enggan untuk berproses dalam dunia kepenulisan, tapi bagi saya pribadi ini menjadi sesuatu yang menarik dan juga tantangan tersendiri.

Mas Gong bercerita tentang kisahnya. Ia sudah mulai menulis sejak dari masih menginjak di bangku sekolah, bahkan berkali-kali tulisannya terbit di media-media besar yang membuat dirinya sering mendapatkan insentif dari sana. Di usianya yang masih muda belia, ia sudah mulai mandiri dan berpenghasilan. Tentu itu semua dari jerih payahnya dalam menulis.

“Itulah kenapa saya bersama para sahabat membangun Rumah Dunia. Kami ingin anak-anak muda Banten di masa depan tidak keculitan seperti kami jika ingin belajar jurna,listik, sastra, dan film,” kisah Mas Gong.

Selain dari banyaknya tulisannga yang dimuat di beberapa media besar tentu banyak juga penolakan dan hinaan yang selalu ia dapatkan dari orang sekitarnya dan bahkan dari beberapa media yang menolak tulisannya, namun itu semua tidak menyulutkan semangatnya untuk terus menulis

Sampai pada akhirnya karyanya Balada si Roy selain best seller dan viral, juga difilmkan oleh Fajar Nugros. Itu semakin mengukuhkan namanya menjadi penulis terbaik yang ada di Banten bahkan Indonesia.

Sampai pada puncaknya, saat ini Mas Gong diamanahkan menjadi Duta Baca Indonesia tahun 2021-2025 menggantikan Mbak Najwa Shihab pada periode sebelumnya. Sungguh prestasi yang luar biasa tentunya.



