Saya ingat sewaktu muda ditanya oleh banyak wartawan, “Bagaimana kamu memulai hari?” Saya jawab dengan “Tersenyum dan sarapan!” Dua hal itu, memang, jadi modal kuat beraktivitas. Dengan tersenyum, saya merasa hidup bersemangat. Dengan sarapan, energi saya jadi berlebih. Saya sehat jiwa dan raga.

Dan persoalan “bahasa senyuman” itu, menurut Bapak dan Emak, ternyata sudah saya mulai ketika saya baru terbangun dari operasi yang panjang, sekitar 6 jam – dari pukul 01.00 – 07.00, setelah tangan kiri saya diamputasi.

Kisah Emak, “Kalau saat itu kamu nangis melihat tangan kirimu diamputasi, Emak sama Bapak pasti akan merasa bersalah sepanjang hidup.”
“Tangan Heri panjang lagi nggak nanti, Mak?” begitu saya bertanya waktu itu, cerita Emak lagi.
Jawab Emak, “Iya. Tangan Heri nanti panjang lagi.”

Tentu tangan saya tidak panjang lagi. Tapi saya memaknainya, bahwa tangan kiri saya sesungguhnya panjang lagi. Dan tangan kiri saya itu panjang hingga ke kakak, adik, saudara, teman, sahabat, tentu sekarang istri dan keempat anak saya. Kita hidup tidak bisa sendiri, harus tolong-menolong. Ya, saya kehilangan beberapa kilo daging saja tetapi mendapatkan banyak anugrah terindah dari “bahasa senyuman” itu.

Begitulah kekuatan “bahasa senyuman”. Jangan sampai hilang di bibirmu. Di wajahmu. Sungguh, kata orang saya tidak tampak seperti berumur 70 tahun, karena saya selalu memakai jurus “bahasa senyuman”.
Kalau kamu?
#bahasasenyuman
#nasihatorangtua

