Senyum Istriku di Love Story

Sekarang saya mau memaknai senyum Tias Tatanka – wanitaku yang solehah. Senyumnya adalah anugrah terindah buatku. Ini semua saya dokumentasikan di playlist “Love Story” akun YouTube saya di https://www.youtube.com/watch… .

Ide membuat “Love Story” ini muncul tiba-tiba ketika mendengar kabar Sapardi Djoko Damono wafat Minggu 19 Juli 2020. Saya dan Tias teringat masa sebelum menikah, bagaimana saya sering membacakan sajak-sajak Sapardi.

Maka jadilah “Love Story” dengan harapan ada sesuatu yang bermanfaat bagi para sahabat yang – ehem, masih memegang teguh kejombloannya.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Ayo, Awali Hari Dengan Tersenyum dan Sarapan

Saya senang melihat (foto) orang sedang tersenyum. Rasanya hidup terbawa tenang dan damai melihat orang tersenyum. Saya yakin semua orang setuju dengan pendapat saya ini. Kata Kurnia Effendi – penulis, “Senyum menguatkan diri sendiri dan orang lain”.

Saya ingat sewaktu muda ditanya oleh banyak wartawan, “Bagaimana kamu memulai hari?”

Saya jawab dengan “Tersenyum dan sarapan!” Dua hal itu, memang, jadi modal kuat beraktivitas. Dengan tersenyum, saya merasa hidup bersemangat. Dengan sarapan, energi saya jadi berlebih. Saya sehat jiwa dan raga.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Kue Jahe dari Istri

Ya, Allah. Ternyata menggeluti iqra dan qalam itu menyenangkan. sudah sejak 1990-an saya memberikan pelatihan menuliskepada para pelajar, mahasiswa, guru, dan siapa saja seperti dari kalangan marjinal seperti pemulung, tukang gorengan, tukang nasi uduk, dan tukang kerupuk. Ada kalanya gratis, ada saatnya juga berbayar. Saling subsidi. Terutama saya yang jadi penjaga gawang terakhir Komunitas Sastra Rumah Dunia. Selama ini biaya operasioal Rumah Dunia ditangani kami, para relawan, dan donatur yang tidak mengikat.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Cerimis dan Certalik Adalah Cerita Pendek di Era Pandemi Covid-19

Apa itu Cerimis? Samakah dengan Ceriwis? Tentu beda. Lantas apa? Cerimis adalah akronim dari Cerpen Dinamis. Lucu. Tidak apa-apa. Nama-nama di Kementerian juga lucu-lucu akronimnya, malah kadang suka bikin bingung. Ah, jangan terlalu serius. Kita harus ber-inovasi. Ini adalah fiksi di era new normal. Jangan sampai kehilangan sense of humor. Pandemi Covid-19 menunjukkan jalan itu. “Cerimis” adalah adaptasi literasi baca-tulis di era digital. Dengan karakter pembaca digital yang senang menyendiri, terburu-buru, cepat bosan, dan menginginkan cerita yang melibatkan dirinya, maka “Cerimis” adalah solusinya.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Penulis Harus Membuka Pikiran dan Hatinya

Kalau ingin berkembang maju, orang yang mengkritik kita sepahit apa pun jangan kita balas dengan caci-maki apalagi dengan menyakiti perasaannya. Terima dengan hati terbuka. Itu adalah nasihat Bapak dan Emak kepada saya.

Begini ceritanya, Kawan. Suatu hari saya pernah menulis novel Islami, yang kemudian best seller dan disinetronkan. Tiba-tiba di sebuah seminar di luar Jawa, ada seorang peserta mengacungkan jari. Terjadi dialog seperti ini:

“Gol A Gong, daripada saya membaca novel Anda yang sampah itu, lebih baik saya membaca Al Qur’an.”

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5