Badrudin, yang akrab dipanggil Si Udin, bukan mahasiswa biasa. Di tengah hingar-bingar gaya hidup YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) yang menjangkiti teman-teman seangkatannya, Udin justru memilih jalan yang sepi peminat, jalan yang sunyi namun penuh makna: YONO – You Only Need One.

Udin lahir dan besar di kampung. Ayahnya seorang pengusaha lokal yang serba bisa: punya sawah, penggilingan padi, angkutan kota, dan toko grosir. Meski berkecukupan, Udin tidak tumbuh manja. Justru sejak SMA, ia sudah terbiasa bantu ayahnya menggiling padi atau mencatat stok di toko. Dari situlah ia belajar satu hal penting: hidup bukan soal punya banyak, tapi soal tahu mana yang cukup.

Sekarang, Udin sedang kuliah di jurusan manajemen di sebuah universitas negeri. Teman-temannya ramai-ramai berburu gadget terbaru, nongkrong di kafe hits, dan update story setiap kali ada pemandangan estetik. Mereka percaya, hidup harus dinikmati semaksimal mungkin—hari ini harus lebih seru dari kemarin. Tapi Udin tidak tergoda.

Setelah kuliah, Udin menyetir taksi online. Bukan karena terpaksa, tapi karena ia ingin melatih dirinya menghadapi orang-orang dari berbagai latar belakang. Malam harinya, ia memberi les privat untuk anak-anak SD di sekitar kampus. Uang hasil kerja ia tabung dan sebagian lagi disetor ke usaha ayahnya, sebagai modal kecil yang ia kelola sendiri.

Motor Udin masih motor lama. HP-nya biasa saja, cukup untuk komunikasi dan buka aplikasi kuliah. Pakaiannya tidak mengikuti tren, tapi selalu rapi. Udin percaya, satu HP cukup asal awet. Satu jaket favorit cukup asal nyaman. Satu tujuan hidup cukup asal jelas.

Teman-temannya kadang heran, “Din, kamu gak bosan hidup begitu-begitu aja?”
Udin hanya senyum dan menjawab, “Kalau aku udah punya yang terbaik menurutku, ngapain nyari yang lain?”

Udin tahu bahwa dirinya tidak sedang hidup lambat—ia justru sedang membangun fondasi kuat. Ia tak haus validasi, tak gila perhatian. Ia menikmati kesunyian yang produktif. Ia bukan anti kemajuan, tapi ia memilih dengan bijak apa yang benar-benar ia butuhkan.

Buat Udin, YONO bukan sekadar gaya hidup, tapi sikap hidup. Bahwa cukup itu bukan berarti kekurangan, tapi tahu kapan harus berhenti mengejar dan mulai menikmati.

Dan mungkin, di tengah dunia yang makin riuh, Udin adalah satu di antara sedikit anak muda yang benar-benar merdeka.

Gol A Gong/ChatGPT

REDAKSI: Di meja makan bukan sekadar tempat orang atau sebuah keluarga makan. Di sana akan banyak ditemukan cerita-cerita sebuah keluarga tentah ayah, ibu, dan anak-anak. Juga cerita-cerita penuh makna agar kita tidak selalu memikirkan perut. Tapi di meja makan kita bisa juga mendengarkan mutiara-mutiara kehidupan agar kita bisa selamat menjalani kehidupan ini.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==