Tugas aku dalam kegiatan ini yaitu menyebar angket minat baca, menyebar daftar hadir peserta serta membaca puisi karya sendiri. Aku mempersiapkan semuanya di dalam kamar hotel nomor 801 sebelum berangkat menuju lokasi acara di Aula lantai 7 Kantor Gubernur Maluku.

Pagi itu, Selasa (19/07) aku, Mas Gong, dan Bang Rudi dijemput pukul 9 lebih WIT oleh mobil dari Dinas Perpustakaan dan Kearsiapn (DPK) Povinsi Maluku. Kami Tim Duta Baca Indonesia yang ditemani oleh Poppy Bachmid di dalam mobil. Dia baru menjabat 3 bulan sebagai Kepala DPK Provinsi Maluku.

Setelah sampai lokasi, aku melihat para peserta yang sudah berkumpul di ruangan. Ada sekitar 150 peserta yang hadir mulai dari siswa-siswi, guru, ASN, mahasiswa, penulis, komunitas Forum Lingkar Pena hingga pegiat literasi Maluku. Aku langsung menyebarkan angket minat baca dan daftar hadir kepada para peserta. Bersyukur banget, aku dibantu Usi Levi, sekretaris pribadi Kepala DPK Provinsi Maluku saat menyebarkannya. Terima kasih.

Kegiatan kali ini mengusung tema “Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat”. Memasuki pra-acara, Renus Siboro perwakilan Pustakawan Ahli Madya Perpusnas RI memberikan sambutan bahwa budaya literasi menjadi fundemental yang akan menghasilkan manusia-manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif.
“Ada lima tingkatan literasi yang harus dimiliki yaitu kemampuan baca-tulis, kemampuan mengakses informasi dan teknologi, kemampuan memahami makna tersirat dan tersurat, kemampuan mental yang kuat, dan kemampuan mempraktikkan ilmu pengetahuan,” ujar Renus saat sambutan.

Kemudian acara dibuka oleh Asisten Daerah I Provinsi Maluku Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Samuel Estefanus Huwae. Menurutnya, talk show dan pelatihan kepenulisan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan minat membaca dan menulis di Provinsi Maluku, sekaligus berbagai implementasi visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur, di mana salah satu misinya yang diemban adalah mewujudkan sumber daya manusia yang profesional, kreatif, mandiri, dan berprestasi.

Aku terkejut melihat Mas Gong terharu saat mengenang kebaikan-kebaikan orang Maluku untuk yang pertama kalinya berkunjung ke sana pada 1987. Mas Gong menceritakan saat bertualang di selama sebulan di Pulau Seram. Suasana aula pun tiba-tiba berubah menjadi hening.

Sebelum masuk materi Mas Gong tentang Menulis Kisah Inspiratif, aku membacakan puisi “Bunga” karya pribadi agar memecah suasana. Aku merasa kembali ke zaman di mana aku melahirkan puisi tersebut. Aku ajak para peserta berinteraksi bersama puisi aku dengan cara mengucap kata bunga bersama-sama ketika aku berkata bunga.
Mas Gong menerangkan tentang Nilai Berita “CHuPPT” yaitu Consequences, Human-Interest, Proximity, Public Figure, Timeline.
“Jadi, jika kita ingin menulis kisah inspiratif itu harus ada unsur-unsur CHuPPT-nya ya,” jelasnya.


