Setelah satu jam berlangsung dengan beberapa peserta yang bertanya. Mas Gong memberikan doorprize buku dari Gramedia, Elex Media Komputindo, Mizan, Agro Media, Sip Publishing, dan Gong Publishing kepada para penanya terbaik.

Setelah itu, masuk acara talk show bersama Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, Andrianita Sulistiorini, Kabid Pengembangan, Pelestarian dan Pengolahan Bahan Pustaka DPK Provinsi Maluku, M. Nasir Pariusamahu, Pegiat Literasi Maluku, dan Eko Saputra Poceratu, Penulis & Penyair Muda Maluku. Acara ini dipandu oleh Iftin Yuninda Hart, Pendiri Suara Milenial Maluku.

Di akhir acara, aku mencatat kata-kata yang keluar dari Mas Gong, bahwa hal kecil bisa jadi besar, hal biasa bisa jadi luar biasa jika ditulis. Aku jadi lebih berusaha untuk menulis tentang semua kejadian yang terjadi di dalam hidupku.
Seperti kejadian malam harinya di dalam kamar hotel, aku mendapatkan informasi dari Mas Gong bahwa Emak — Ibunda Gol A Gong — telah meninggal dunia tepat pukul 19.45 WIB. Aku secara sepontan mencium tangan Mas Gong dan mengucapkan turut berduka cita.

Aku, Bang Rudi, Mas Gong salat ghoib berjamaah di dalam hotel. Kami mendoakan almarhumah: Hj. Atisah Harris binti Atjing. Semoga husnul khotimah.
Mas Gong bercerita bahwa sebelum ia berangkat ke Maluku telah berpamitan dan meminta izin kepada emak, keluarga, dan saudara-saudaranya. Kegiatan di Maluku sudah dirancang sejak bulan Oktober 2021 yang melibatkan banyak orang. Jadi ia memilih menyelesaikan tugas negara ini sampai selesai pada 23 Juli 2022 nanti.

“Saya belum bisa pulang ke Serang hari ini untuk menyolatkan emak karena saya memiliki tanggung jawab kapada banyak orang di Maluku untuk berkegiatan literasi besok pagi sampai nanti hari Sabtu. Ini ibarat tentara ke medan perang. Saya ke Maluku berkampanye surat Al-Alaq, bukan untuk bersenang-senang. Ini bagian dari jihad literasi juga. Semoga ada pahala yang mengalir buat emak,” katanya.
Aku yakin, siapapun yang kehilangan sosok ibu pasti begitu sedih. Malam ini, aku perhatikan Mas Gong yang berusaha tegar, sabar, dan ikhlas melepas kepulangan Emak untuk menghadap Allah SWT.

Setahu aku ketika bertemu Emak di Rumah Dunia, Kota Serang, beliau selalu manawarkan aku atau relawan Rumah Dunia lainnya untuk makan atau bertanya perihal salat fardu 5 waktu. Kini, dua peristiwa itu yang membuat aku sedih atas kepergiannya untuk selama-lamanya. Salamat jalan Emak, semoga segala amal ibadah Emak diterima oleh Allah dan ditempatkan di surganya Allah SWT. aamiin… Alfatihah.
Rabu, 20 Juli 2022
Djoe Taufik


