Mesin tik itu masih kupandangi. Tukang loak menatapku kesal. Alangkah berdosanya jika benda kuno ini aku jual. Bagaimana dengan sejarah mesin tik ini? Sudah ratusan buku lahir dari mesin tik ini.
“Jadi nggak dijual?”
“Masak sih dua puluh lima ribu? Ini mesin tik bersejarah!”
“Ya, sudah! Saya naikin empat puluh! Mau nggak? Sekarang tuh orang-orang pake laptop, handphone!”
“Lha, kenapa Bapak mau beli mesin tik ini?”
“Situ kenapa mau jual?” >> bersambung ke halaman berikutnya >>

Halaman: 1 2

