Cerpen Sabtu: Jangan Biarkan Nasi Menangis

Awalnya, perkenalan yang terhubung melalui media sosial itu berjalan aman-aman saja, tidak ada kendala berarti. Salamah bisa dengan mudah melakukan chatting atau membalas komentar semua laki-laki yang berkurumun di akunnya dengan santai. Foto profil yang dipasang Salamah memang begitu menggoda, tidak saja bagi lelaki yang kerjaannya hanya menganggur, bahkan lelaki yang sudah punya kehidupan mapan pun tergolek lemas dengan penampilan Salamah di media sosial. Anggun dan menawan.

Maka dari itu, tak heran jika akun media sosial Salamah dipenuhi oleh puluhan ribu followers. Bukan saja dari Indonesia, tapi juga mancanegara. Bahkan beberapa netizen dari negara-negara NATO juga tampak mengikuti akun Salamah. Karena itu, tak heran pula jika beberapa akun lain merasa tersaingi dengan pencapaian Salamah. Jangankan orang lain, Salamah sendiri seperti tak percaya dengan pengaruh dirinya di media sosial yang saban hari mendapat pujian dan kiriman lambang hati, bahkan bintang-bintang yang bisa ia jadikan uang.

Saat itu terjadi tentu saja Salamah sangat tersanjung. Ia merasakan tubuhnya seperti mengambang dan melayang-layang di angkasa. Bahagia sekali rasanya, dan demi menikmati sanjungan-sanjungan itu lebih abadi, dia berharap bisa hidup seribu tahun lagi, seperti harapan penyair idamannya yang kini hanya bisa dia temui lewat puisi, sebab jasadnya telah mati.

Namun, seiring perjalanan waktu, imajinasi-imajinasi Salamah mulai berguguran dan jatuh ke tanah, terlebih ketika usianya hampir menginjak 30 tahun. Dia kian menyadari bahwa pujian dan sanjungan di alam maya hanya ilusi belaka, hanya bunga-bunga tidur yang tak bisa diraba. Menyadari itu, dia pun mulai menangis dan sesekali mengutuk ibunya.

Hatinya semakin gundah ketika raganya menginjak bumi, ya, bumi yang diliputi tanah, pasir, air dan aneka kotoran, bukan bumi yang ada di awang-awang, yang selama ini menipunya dengan sadis. Saat itulah Salamah ditegur kesadarannya sendiri, kesadaran yang selama ini hanyut terapung di alam maya.

Salamah ingin memiliki teman, teman yang benar-benar sejati, bukan teman yang hanya bisa mengirimkan emotikon atau bintang-bintang, tapi teman yang mampu memberinya kehangatan. Kehangatan yang seperti matahari, bukan kehangatan semu yang membuat hatinya sesaat mengembang dan lalu kempis lagi.

Awalnya harapan itu tumbuh berkecambah di akun media sosialnya. Satu persatu akun datang melamarnya di alam maya. Namun, ketika Salamah menginjakkan kaki pada bumi, satu persatu lamaran itu mundur teratur. Maka Salamah pun mengganti strategi, balik melamar akun-akun itu. Yang terjadi kemudian adalah sama, di alam maya mereka menyambut sepenuh hati, dan ketika keduanya berada di bumi, mereka pun berbalik arah. Begitu terjadi bertahun-tahun sampai Salamah berusia 32. Usia yang membuat ia semakin kesal pada ibunya sendiri.

Semua bermula ketika Salamah masih kecil, masih berlari-lari di pekarangan rumah, saat ibunya menyuapi sejumput nasi. Ketika tiba waktunya mengisi perut, dia selalu berlari-lari, menjauh dari ibu yang mengejarnya dengan sepiring nasi.

“Makanlah biar kamu cepat besar,” kata ibunya saat itu.

Salamah lebih suka menggeleng ketika suara itu keluar dari mulut ibunya. Dia akan berlari-lari ke sana ke mari. Dia ingin terus bermain dan tak mau diganggu dengan suapan nasi. “Nanti saja,” jawabnya seraya berlari. “Sedikit saja,” balas sang ibu. “Sebentar dulu,” timpal Salamah sembari terus meloncat kian kemari. Namun, ibu tetaplah ibu, dia akan menunggu Salamah lelah bermain, dan lalu menyuapi gadis kecil itu hingga piring di tangannya tandas tak berbekas.

Saat usia Salamah beranjak sedikit, mulailah dia makan sendiri. Namun, jiwanya yang ingin terus bermain membuat ia meninggalkan piring itu di pekarangan, dikerubungi ayam dan lalu habis. Seraya menggeleng, ibunya kembali mengambil nasi, mengisinya di lain piring. “Makanlah dulu,” seru sang ibu seraya mengejar Salamah. Sejenak gadis itu berhenti, menghabiskan nasi setengah saja, lalu kembali bermain. Terpaksa sang ibu menggayang nasi setengah lagi, membuat tubuhnya kian subur saja.

Hari berlalu, usia Salamah bertambah lagi. Saat itu dia sudah duduk di kelas 1. Ibunya mulai menghidangkan nasi di meja, tak lagi berlari-lari di pekarangan. Saat jam makan tiba, Salamah diminta duduk di sana, menghabiskan nasi yang sudah disaji.

“Makanlah dengan tenang, kamu sudah besar sekarang,” kata ibunya.

Salamah mulai menurut, tak lagi meloncat ke sana ke mari. Dia melahap nasi di atas meja, menyisakannya sedikit di pojok piring.

“Habiskan, jangan tersisa,” minta ibunya, seraya mengusap-usap kepala Salamah.

Salamah mendongak, memandang wajah ibunya, “Sudah kenyang,” jawab Salamah.

“Sedikit lagi, habiskan, kamu pasti bisa.”

Salamah pun menandaskan nasi sampai piringnya melompong. Sang ibu tersenyum, memeluk Salamah dengan erat, “Pintar anak ibu.”

Di lain hari, ketika Salamah kelas 6, ibu memberi satu nasihat penting pada Salamah, nasihat yang selalu ia ingat sampai kapan pun, bahkan sampai ibunya mati.

“Makan nasi tak boleh bersisa,” kata sang Ibu, “agar nasi senyum gembira. Jangan biarkan nasi-nasi tersisa di piring, nanti nasi itu menangis.

“Benarkah nasi bisa menangis?” tanya Salamah.

“Iya. Nasi yang tak habis dimakan pasti menangis.”

“Kenapa Salamah tak pernah mendengar?”

Ibunya tersenyum. “Ibu selalu menghabiskan nasi di piring Salamah, makanya nasi tak pernah menangis.”

Di hari-hari selanjutnya, Salamah pun tak pernah lagi menyisakan nasi di piring. Dia selalu menghabiskan nasi itu dengan penuh semangat. Bukan cuma nasi, semua makanan yang disodorkan kepadanya akan ditandaskan begitu saja. Dia memegang teguh pesan ibu agar nasi dan makanan tak menangis. Semakin hari, makan Salamah pun semakin banyak.

Ketika ibunya meninggal, Salamah dilanda stres berat. Saat itu usianya 20 tahun. Dia merasa kehilangan satu-satunya pegangan hidup. Kesendirian tanpa sosok ibu membuat Salamah merasa tertekan. Hanya ada satu cara bagi Salamah untuk mengenang ibunya; menghabiskan nasi hingga tak bersisa. Maka setiap hari, seraya menangis, Salamah melahap semua makanan sampai tandas, lalu tersenyum mengenang wajah ibunya.

Kini, saat usianya 32 tahun, dia pun kembali menangis dan sesekali mengutuk ibunya sendiri. Dia merasa kecewa dengan tubuhnya. Hanya gara-gara tak ingin nasi menangis, tubuh itu kian mekar saja. Alam maya dengan segala ilusinya, yang selama ini melindunginya, sekarang tak bisa diandalkan lagi, sebab ketika kakinya menginjak bumi, kenyataan menjadi lain. (*)

*) Tin Miswary, menulis fiksi dan non fiksi. Menetap di Bireuen. Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, No Hp  0811672048 (WA) 08116705977 (HP), Email : khairilmiswar@yahoo.com ; khairilmiswar@gmail.com , Rekening BCA Syariah: 0730006434 (Khairil Miswar), Media Sosial : Facebook (Khairil Miswar)

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, horor, ada plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==