Malam ini, tepat ketika sepasang jarum jam berpelukan di angka dua belas. Bramantyo yang masih terjaga dikejutkan oleh riuh ketukan pada pintu rumahnya. Ia pun bergegas membuka bilah pintu, dan mendapati seorang anak kecil bertelanjang kaki berdiri mematung di hadapannya.

“Ada apa, Samran?”
“Pak Dokter, harus ikut saya.”
“Lho? Ke mana? Ini, kan, sudah malam?!”
“Keluarga kami sudah menunggu, Pak Dokter, di atas bidok.”
“Oh, keluargamu ada yang sakit, Samran?”
Kali ini pertanyaan Bramantyo tak menemukan jawaban. Samran sudah berlari lintang pukang menyusuri titian papan kayu menuju ke arah pesisir. Seakan mencium gelagat mencurigakan, Bramantyo pun lekas memunguti peralatan medis yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Peralatan medis yang selama ini digunakan melayani pelbagai masalah kesehatan yang dikeluhkan oleh warga.
Sudah hampir sebulan, Bramantyo bermukim pada sebuah rumah panggung yang bertengger di atas batu karang pesisir teluk Bone. Turut serta mendukung program negara dengan mengabdikan diri menjadi tenaga medis yang ditugaskan ke luar Jawa. Sebuah tugas yang tentunya tidak mudah. Lantaran harus tertungkus lumus pada tempat asing yang mempunyai kultur berbeda dari tempat asalnya.
Di Kampung Bajo. Bramantyo hanya ditemani oleh Masyita. Seorang Bidan yang juga berasal dari Jawa. Akan tetapi, pagi tadi, tak dinyana perempuan lajang itu mendadak mengemasi barang dan bergegas pulang ke daerah asalnya.
“Aku sudah jengah hidup di tempat ini. Kejadian di atas bidok sungguh tak manusiawi.” Begitu gerutu Masyita. Tatkala Bramantyo masih berselubung pertanyaan, perihal perkara yang membuat perempuan bergigi kelinci itu mengakhiri kontrak kerja yang belum genap sebulan mereka jalani.
***

Embusan semilir angin laut menelusup di balik jaket parasit yang dikenakan Bramantyo. Tubuhnya yang tambun bergoyang ke kiri dan ke kanan seirama dengan laju leppa. Sebuah perahu kecilyang menjadi tumpangannya dan dikayuh sendirian oleh Samran. Sebuah perahu tak bercadik yang perlahan melaju menuju tengah-tengah perairan teluk Bone. Meninggalkan deretan rumah panggung berbentuk bujur sangkar milik orang Bajo yang membentang dari utara hingga selatan, pada sebuah lekukan antara tanjung Pallete dengan tanjung Pattiro di bagian selatan.
Keheningan malam terasa begitu menyesap, hingga bunyi kecipak air dari benturan dayung dan ombak terdengar kentara. Tak ada percakapan antara Bramantyo maupun Samran di sana. Sebelum teriakan keras memecah kebisuan yang sekian waktu telah membatu.
“Lebih cepat lagi, Samran!” lamat-lamat teriakan itu melewar dari bidok yang dikandaskan di tengah laut.
“Ada apa, Samran?!” tanya Bramantyo kemudian.
“Sepertinya, waktunya sudah tiba, Pak Dokter.” timpal Samran dengan lenguh bergetar.
“Hei… Apa maksudmu?!” Bramantyo semakin penasaran.
Namun, sekali lagi. Pertanyaan Bramantyo urung menemukan jawaban. Samran semakin cepat mengayuh dayung yang melekat pada genggaman tangan kecilnya. Anak laki-laki itu begitu cekatan mengemudikan leppa membelah gelombang lautan agar lekas merapat di samping bidok. Sebuah perahu kayu yang memiliki ukuran tiga kali lebar dari leppa, yang dilengkapi dengan tenda berdinding papan dan beratap daun nipah. Dan biasa dihuni oleh keluarga orang Bajo tatkala mengarungi lautan untuk mencari ikan.
***

Mengapa bayi itu dicelupkan ke dalam laut? Lagi dan lagi, pertanyaan itu berkelebat di kepala Bramantyo.
Beberapa jam yang lalu, selepas Bramantyo beralih tumpangan dari leppa menuju ke bidok. Ia melihat prosesi persalinan yang tak biasa. Di bawah remang celupak dalam bidok keluarga Samran. Ibu Samran terlihat tengah mengejan hebat. Meregang nyawa demi melahirkan anaknya yang kedua dengan bantuan dukun beranak. Prosesi persalinan berjalan dengan gangsar, meski hanya dilakukan dengan piranti sederhana.
Akan tetapi, sesuatu yang ganjil masih mengganjal di dada Bramantyo. Lantaran selepas pemotongan tali pusat, bayi yang masih diselimuti bercak darah itu langsung dicelupkan selama sepersekian detik ke dalam air laut yang menggenang di bawah bidok.
Batin Bramantyo sontak menggelegak. Nalurinya sebagai tenaga medis gegas bergejolak.
“Bukankah bayi baru lahir tak boleh langsung dimandikan? Bagaimana jika bayi itu mengalami penurunan suhu, atau yang lebih fatal malah kehilangan suhu? Tentu, darah yang mengalirkan pasokan oksigen akan berkurang dan membuat tubuhnya lekas membiru?!”
Tetapi, pelbagai pertanyaan itu tak pernah diutarakan Bramantyo. Lidahnya terasa kelu, seperti tersayat sembilu. Ia hanya bisa termangu mengamati rentetan adegan yang baginya terlampau mengerikan dan membahayakan keselamatan bayi.
“Selamat malam, Pak Dokter. Maaf, sudah menunggu lama.” suara serak Pak Sangaji melamurkan lamunan Bramantyo.
“Bagaimana keadaan adiknya Samran, Pak?”
“Oh, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya baik-baik saja.”

Bramantyo pun terkesiap, seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Sangaji—ayahnya Samran.
“Maaf, sudah mengganggu waktu istirahat, Pak Dokter. Saya terpaksa menyuruh Samran menjemput larut malam. Agar kelak tak lagi timbul kesalahpahaman, sebagaimana yang terjadi dengan Bidan Masyita.”
“Maaf, maksud, Bapak?”
Tak ada jawaban. Pak Sangaji memantik macis dan membakar sebatang lisong. Lalu mengisapnya dalam dan mengembusnya panjang. Lantas menghampiri Bramantyo yang tepekur pada haluan bidok.
“Kami tinggal di laut. Hidup dari hasil laut. Hingga segala upacara seperti: kelahiran, kematian, khitanan, dan pernikahan kami lakukan di atas laut. Bagi kami orang Bajo, lautan adalah segalanya.”
Bramantyo hanya terpaku seraya menerka kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.
“Saya hanya tak ingin, Samran dan juga adiknya yang baru lahir itu melupakan asal-usulnya. Maka sudah menjadi keharusan bagi kami orang Bajo, untuk mengenalkan keturunan pada lautan, begitu mereka mulai membuka mata.”
Ucapan Pak Sangaji menjelma bongkahan batu yang menggelinding dan menumbuk deras di dada Bramantyo, hingga membuat aliran napasnya tersekat dan tak mampu mengecap sepatah kata. Suasana di atas bidok pun berarak senyap. Diselingi kelepak angin yang membuat malam menjadi bergetar.
“Bapa, semua peralatan sudah siap!” Selang berlalu, Samran datang membawa bungkusan plasenta milik adiknya beserta piranti upacara lainnya.
Dan sejurus kemudian, Pak Sangaji meramu plasenta itu bersama dengan garam dan juga asam camba sembari mendaras mantra. Kemudian membungkusnya menggunakan kain putih, dan memasukkannya ke dalam tempurung kelapa.
“Sungguh, suatu kehormatan, bila Pak Dokter berkenan menghanyutkannya,” pinta Pak Sangaji dengan takzim.

Seperti sedang terhipnotis. Bramantyo pun lekas menuruti permintaan Pak Sangaji dengan menghanyutkan tempurung kelapa berisi plasenta itu ke lautan.
“Di lao’ denakangKu!” teriak Pak Sangaji kemudian.
“Lautan adalah saudaraku!” sahut Samran sembari mengepalkan tangan.
***
TENTANG PENULIS : Wahyu Christian Adi Setya. Lahir di Blitar dan tinggal di Probolinggo. Saat ini sedang menyiapkan buku kumpulan cerpen perdana berlatar belakang kehidupan suku-suku terasing yang mendiami Nusantara. Nomor HP/WA: 085 815 237 696.

REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


