Oleh Wahyu Christian Adi Setya
Pertanyaan itu berkelebat di kepala Bramantyo. Berkelindan dengan pijar celupak yang timbul tenggelam menerpa pias wajahnya. Ia masih tak menyangka, bahwa apa yang didengarnya pagi tadi bukanlah bualan belaka. Bahkan, apa yang diceritakan oleh Masyita masih belum kering dari telinga.

Halaman: 1 2

