Namun kemudian era tahun 90-an, setelah masa NKK/BKK di mana keberadaan dewan mahasiswa digantikan oleh Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), gerakan mahasiswa Bandung seperti “padam”. Kalaupun muncul itu dari organisasi yang dibentuk mahasiswa di luar SMPT. Di kalangan mahasiswa aktivis, beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus yang kerap aktif dalam gerakan misalnya seperti FAMU (Forum Aktivis Mahasiswa Unisba), SPMB (Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa Bandung), KPMB, GMNI, HMI.

Dalam bacaanku, mereka yang tergabung di sini biasanya yang menghidupkan gerakan politik mahasiswa Bandung. Berbagai permasalahan sosial, ekonomi, politik, merupakan isu yang menjadi sasaran mereka aksi mereka.

Era 90 an, gelombang aksi mahasiswa Bandung sempat mencatat sukses saat memprotes SDSB tahun 1993. Puluhan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Bandung, bersatu menuntut dibubarkannya SDSB. Aksi tersebut mendapat respon dari DPR dan pemerintah. Tuntutan mahasiswa dipenuhi dengan dihapuskannya SDSB. Kemudian saat kasus skandsl Bapindo, Kasus PDI, Busang, Timor Timur, Irian Jaya. Aksi terakhir di Bandung, tanggal 10 Desember yang lalu, di mana FAMU bersama KPMB menggelar aksi Hak Azasi Manusia.

Sebenarnya jika dibandingkan dengan jumlah seluruh mahasiswa Bandung, mahasiswa aktivis yang berani membentuk parlemen jalanan terbilang sedikit. Kalaupun sebuah aksi diikuti oleh ratusan mahasiswa, itu karena kelihaian para aktivis itu dalam orator dan menggalang emosi massa.

“Saya yakin mahasiswa yang aktif di organisasi baik intra maupun ekstra kampus, semua punya kepedulian. Cuma sejauhmana kepedulian itu. Mungkin organisasi intra kampus ada batasan-batasan terhadap kepedulian itu sendiri. Mau tak mau mereka membawa nama kampus. Beda dengan organisasi ekstra, mungkin ada sedikit keleluasaan dalam merealisasikan kepeduliannya,” ujar Rudi Kusno, aktivis FAMU dalam satu wawancara di media.

Menanggapi mengendurnya aktivitas gerakan politik mahasiswa Bandung, Budarta, Sekretaris Umum GMNI mengatakan bahwa ini dipengaruhi oleh banyak faktor. “Bisa kuliah, ancaman DO, orang tua, juga refresitas aparat,” jelasnya. Menurut Budarta kurangnya kepedulian politik mahasiswa juga dikarenakan pendidikan masa kecil, di mana mengintroduksi nilai-nilai pendidikan terhadap politik, bahwa politik itu sesuatu yang kotor begitu melekat.

“Itu semua akumulasinya sekarang, mahasiswa jadi apatis. Bahwa gerakan politik mahasiswa merupakan gerakan moral. Keadaaan mahasiswa Bandung yang kurang peduli terhadap permasalahan politik, dikhawatirkannya akan berdampak terjadinya krisis kader-kader pemimpin bangsa masa depan,” jelasnya lagi.

Mengenai ketidakpedulian mahasiswa Bandung terhadap politik, Nyoman Parte, Pimpinan Daerah KMHDI (Komite Mahasiswa Hindu Darma Indonesia) Bandung, menilai tidak begitu peduli. “Mahasiswa Bandung tidak begitu peduli dengan kehidupan sosial. Ini dikarenakan gaya hidup hedonis, persoalan kampus yang membatasi aktifitas mahasiswa sehingga kondisinya tidak kondusif lagi sebagai ajang melatih kepekaan sosial. Kampus lebih berfungsi sebagai alat pemasung kreatifitas mahasiswa. Solusi untuk ke luar dari persoalan ini yaitu mahasiswa memperbanyak kegiatan pemberdayaan. Kemudian menciptakan kondisi kampus menjadi ajang yang kondusif untuk dialogis,” paparnya.
Bersambung ke bagian 13


