Pemilu yang diselenggarakan tiap 5 tahun sekali hanyalah sekedar untuk melegitimasi rezim orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang sudah hampir 32 tahun berkuasa.

“Ded, kita ini katanya mahasiswa agen perubahan. Tapi lihat faktanya, mereka hanya fokus kuliah, dapat nilai bagus dan lulus pada waktunya. Apa yang diharapkan dari mereka mahasiswa hedon itu?” tanyaku pada kawan itu pada suatu diskusi ringan.

“Sudahlah Ron, ente jangan ikut usil apa niat mereka kuliah. Tidak ada gunanya. Sekarang kita ambil aja bagian kita untuk ikut melakukan perubahan,” jawabnya.
“Iya tapi apa mungkin perubahan akan terjadi. Sekarang ini situasi rakyat makin susah. Orang tidak bisa bersuara bebas dan pers sudah banyak yang dibredel,” ungkapku

“iya. Kita sudah tahu masalahnya. Tapi perubahan itu tidak segampang membalikkan tangan. Harus ada martir dalam perjuangan,” Ujarnya lagi padaku.
“Ini biang keladinya Soeharto dan Soeharto harus mundur!” jawabku sekenanya.
“Hust, jangan ngomong sembarangan. Ente bisa ditangkap nanti,” kawanku mengingatkanku

“Ron, boleh aja ente ngomong kayak gitu. Tapi situasinya tidak tepat saat ini.. Kita harus taktis membaca kondisi perpolitikan hari ini yang penuh suasana refresif,” Kata Irzal ikut nimbrung.
“Nanti ada saatnya kita mendesak Soeharto mundur dari tampuk kekuasaannya, Saya pikir krisis moneter bisa menjadi pintu masuk untuk ke arah sana,” lanjutnya lagi.
“Okeh, kita ikut amati dulu aksi-aksi mahasiswa di beberapa kota besar di Indonesia. Sejauh ini baru masuk pada isu turunkan harga sembako,” aku menanggapi.

Mendekati penghujung tahun 1997, keadaaan bangsa kian mengkhawatirkan saja. Harga-harga bahan pokok kian melambung tinggi. Orang sudah mulai antri beli minyak goreng karena minyak goreng sedang langka. Krisis moneter yang katanya biang keladinya George Soros belum juga belum diatasi. Sementara negara Asian lainnya sudah tidak mengalami keadaan yang lebih parah akibat hantaman gelombang krismon. Indonesia justru tidak mampu mengatasinya bahkan rakyat makin dibuat susah.
Di kamarku, aku merenung. “Mengapa Indonesia yang katanya subur makmur loh jinawi, tapi pada kenyataannya masih banyak yang hidupnya sengsara. Apa gunanya di adakan Kelopencapir-Kelonpancir itu, tidak ada dampaknya apa-apa untuk rakyat”.

“Soeharto katanya Bapak Pembangunan? Ah itu kan sengaja diciptakan agar kroni-kroninya tetap berkuasa dan pengusaha terus mengambil untung dengan dekat dengan Soeharto seperti yang dilakukan Soedomo. Yang paling untung mereka para taipan-taipan itu,” gerutuku dalam hati.
Bersambung ke bagian 14.


