Saya jadi ingat Bapak. Setiap kenaikan kelas, 1970-an di Banten, banyak murid dan orangtuanya datang membawa oleh-oleh. Bapak mengusirnya. Setelah kenaikan kelas berlalu dan mereka datang lagi, sebagai bentuk terima kasih, oleh-oleh berupa sayuran, jagung, pisang, beras, bahkan duren memenuhi ruang tamu. Hampir kebanyakan guru di Banten seperti itu, panen hadiah setelah kenaikan kelas. Bapak menerima dan membagi-bagikan juga ke tetangga.

Kata Bapak, “Jika berbuat baik harus seperti orang berak di kebun. Prooot, langsung kabur, karena khawatir ketahuan pemilik kebun.”
Hahahaha. Saya tertawa. Di zaman sekarang untuk bersikap seperti itu sulit. Agama juga tidak melarang kita berbuat baik kemudian menyiarkan ke publik sebagai bentuk syiar. Kecuali untuk kepentingan politik dan kemudian ada pamrih, si pemberi bantuan meminta dengan paksa kepada si penerima agar memilihnya.
Bapak berkata lagi, “Paling bahagia bagi seorang guru seperti Bapak adalah, ketika muridnya datang dan mengabarkan bahwa ilmu yang didapatnya bermanfaat bagi diri dan keluarganya. Syukur-syukur untuk masyarakat.”

