Bapak menasihati lagi, “Murid Bapak kemudian melupakan Bapak atau membenci Bapak karena Bapak ingatkan langkahnya salah, itu tidak masalah. Toh, dari awal juga Bapak tidak mengenal dia. Bapak tentu memaafkan murid Bapak dan cara terbaik adalah mengenangnya pernah jadi murid, kemudian melupakannya. Semoga itu tidak mengurangi pahala Bapak dari Allah SWT karena sudah membuat murid Bapak memiliki ilmu yang Bapak ajarkan. Bapak harus berfokus lagi kepada murid-murid lainnya yang ingin maju. Yang harus kamu perhatikan, tidak boleh menanamkan rasa benci kepada murid yang satu ke murid lainnya.”

Saya tertegun mengingat kalimat Bapak. Banyak petuah dari Bapak yang selalu menyarankan, agar saya mengalah setiap menghadapi persoalan. Berat melakukannya. Kita ini manusia, yang memiliki emosi. Semoga saya bisa.
Satu saja yang tidak boleh mengalah, “Jika pemimpinmu korupsi, ingatkan dan lawan semampu kamu bisa.” Itu pesan Bapak yang lain.
Bapak. Dan cintanya kepada kami, anak-anaknya.Tak pernah bisa kami balas.Kecuali kami jadi anak-anaknya yang soleh dan Solehah. (Gol A Gong/September 2020)

