Dari Kekuasaan, Pulang ke Hati hingga yang Diam-diam Menyerah

Dari 51 puisi yang (di)hadir(kan) dalam kumpulan ini, ada beberapa puisi yang menggetarkan hati saya. Pertama, puisi pertama, Apakah Negara?, yang sekaligus dijadikan judul dalam kumpulan ini. Karena puisi tersebut ditempatkan pada urutan pertama, meski titimangsa pada puisi tersebut tahun 2019, saya kira puisi ini merupakan perwakilan dari puisi-puisi yang lainnya. Puisi-puisi yang lain bisa jadi—ya, bisa jadi—merupakan penjabaran dari puisi ini.

Seperti yang ditulis Mas Toto—sapaan saya kepada Toto ST Radik—dalam pengantar-seteguk-kata, puisi-puisi yang ditulis dalam rentang waktu 2012 hingga 2022 ini berbicara seputar kritik sosial, yang mencakup kehidupan politik dan para politikus di negeri ini, yang mau-tak mau turut memengaruhi tatanan kehidupan dan moral-mental-religi masyarakat.

jadi untuk apakah kalian mendirikan negara?
tanah dan harta benda menyihirmu
menjadi begundal rakus

mengunyah jantung sesama manusia
sambil menyeru kebesaran nama Tuhan

Dari puisi ini kita bisa merasakan betapa kekuasaan, yang dimanifestasikan oleh negara, bisa mengubah manusia menjadi monster bagi apa dan siapa saja, bahkan bagi sesamanya. Sangat mengerikan. Sangat menakutkan.

Maka dari itu, bagi siapa pun yang lemah moral-mental-religi sebaiknya menahan diri, “berpuasa hati”, dari godaan kekuasaan dan lingkaran negara, seperti yang tertulis dalam puisi Surat Kepada Wawan, puisi kedua yang menggetarkan hati saya:

ah, wawan
kawanku yang baik semasa kecil
di manakah engkau sekarang?
jika kau didera kesepian
pulanglah ke hatimu

pulanglah ke muasal dirimu

Tak dinyana lagi, hati adalah satu-satunya rumah yang hangat dan nyaman bagi ketenangan batin kita, yang menautkan kita kepada-Nya. Secara kasat mata mungkin kita merasa senang-senang saja dikelilingi keluarga atau para kolega atau siapa pun yang ada di sekitar kita; atau kita bisa melakukan apa pun yang kita mau karena banyak harta. Tapi apakah itu bisa menjamin esensi kebahagiaan kita? Atau itu semu belaka? Hanya diri kita dan hati kita yang dapat menjawabnya.

Saya menilai, dalam puisi di atas, sang penyair peduli terhadap seseorang yang ditulis dalam puisinya. Ia mengajak orang tersebut untuk kembali menjadi dirinya sendiri, menjadi seorang kanak kembali, yang bermain-berkumpul dengan teman-teman sebayanya tanpa kepentingan apa pun kecuali untuk bermain dan bersenang-senang itu sendiri, sehingga tak pernah merasakan perasaan yang paling menyedihkan dan menakutkan yang disebut kesepian.

Kekuasaan, yang dimanifestasikan negara, nampaknya turut memengaruhi kehidupan teman-teman sang penyair, yang artinya mempengaruhi juga kehidupan-batin sang penyair dan berefek pada kehidupan-lahir dirinya.

sejarah
yang diamdiam menyerah

teronggok
di pojok perpustakaan

lisut
di hadapan kilat mata pisau

dan katakata
yang selalu mengajak bertikai

maka pujilah
segala yang lekat pada singgasana

jika kau
tak rela hidupmu jadi jelata

Puisi di atas yang berjudul Yang Diamdiam Menyerah, puisi ketiga yang menggetarkan hati saya, yang diperuntukkan kepada kawan-kawanku (kawan-kawan sang penyair), menggambarkan kesedihan yang sungguh nyata. Kesedihan itu datang dari kawan-kawannya, teman-teman seperjuangannya, yang perlahan-lahan dan diam-diam berhenti untuk berjuang, berhenti bertahan dalam terjangan keburukan dan kebusukan kekuasaan.

Jika kita turut membaca puisi-puisinya yang bertajuk Timur dari Masa Lalu yang diunggah di akun Facebook-nya, maka tak heran jika sang penyair memilih jalan untuk pergi (bukan menyerah) dari tanah kelahirannya, karena orang-orang yang dekat dengannya, yang memiliki kesamaan idealisme, sudah menjadi pohon yang rubuh karena akarnya rapuh. *

Rumah Baca Bojonegara, Sabtu, 20 Agustus 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==