Penyair Pulo Lasman Simanjuntak dari Kota Jakarta kembali ‘membidik’ kasus korupsi di tengah perkembangan makin maraknya unjuk rasa dan demonstrasi di Indonesia
Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Kembali ‘Membidik’ Kasus Korupsi Melalui Karya Puisi

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Penyair Pulo Lasman Simanjuntak dari Kota Jakarta kembali ‘membidik’ kasus korupsi di tengah perkembangan makin maraknya unjuk rasa dan demonstrasi di Indonesia

Hutanku hutanmu. Mari kita jaga. Jangan digunduli. Jangan dibakar. Nikmati Puisi Minggu edisi 33/II/24 Agustus – 31 Agustus 2025: Tentang Hutan karya Gol A Gong. Jangan lupa, seduh kopimu.

Sebuah esai tajam tentang keterbatasan penyair yang hanya menulis puisi, pentingnya menguasai prosa, dan tantangan kreatif dalam menjelajahi bahasa secara utuh.

Puisi ini adalah kisah tentang cinta dan perjalanan bersama yang akhirnya berpisah arah. Dari kebahagiaan awal, melalui berbagai pertanyaan eksistensial, pilihan hidup, hingga akhirnya keberanian (salah satu pihak) untuk menciptakan jalan baru. Sementara yang lain, tetap menyimpan kenangan itu dalam mimpi.

Puisi “HATI-HATI HATI” karya Gol A Gong ini menyuguhkan perenungan mendalam tentang rumah, cinta, dan identitas pribadi yang mungkin telah tergerus zaman. Nada puisinya reflektif dan suram, memunculkan rasa kegelisahan batin atas perubahan, kesendirian, dan keterasingan di tempat yang seharusnya menjadi tempat pulang.

Puisi “Kau Datang Bersama Hujan” karya Gol A Gong ini memiliki nuansa kesedihan, kehilangan, dan harapan yang samar. Ada simbol hujan yang merepresentasikan kerinduan, kepergian, atau mungkin kehadiran yang dinantikan.

Dalm hidup, kita harus memiliki mimpi yang tinggi. Dengan usaha keras dalam mengejar impian, meski terasa sulit atau selalu menjauh, suatu saat akan terwujud.

“Kami para ibu takut melihat iklim puisi di sini, terkesan seram dan saling ejek. Padahal puisi esai bisa sebagai transisi ke jenis puisi mainstream. Konsepnya lebih memudahkan yang bukan penyair merumuskan ide-ide ke dalam puisi.”

Kali ini Puisi Minggu Edisi 47/I/24 November 2024. Lima puisi Muhammad Gibrant Aryoseno tentang alam. Dengan nada kontemplatif dan melankolis, puisi ini menyeimbangkan keindahan puitis dengan kritik tajam terhadap dunia modern. Selamat menikmati puisi-puisinya.

Inilah hebatnya puisi. Kita diberi peluang untuk menciptakan baris-baris kalimat yang ajaib. Ketika rumah gelap, mari menanam matahari supaya terang.

Puisi sekarang seperti curhatan para penyairnya. Tak ada lagi perlawanan selain kata-kata berhamburan dari mulut bau penyair. Separah itukah? Masi perlukah kita menjaga puisi? Merawatnya?

Saya menginjakkan kaki ke Borneo pada 1987, tepatnya di Samarinda. Saya naik perahu kayu dari Pare Pare. Setelah itu berkali-kali saya ke Borneo, semua provinsinya. Bertualang menyusuri sungainya. Bahkan pernah sebulan mengitari Borneo dari Pontianak, Kucing, Bintulu, Brunei, Kinibalu, Tawao, Nunukan, Tanjungselor, Berau, Bontang, Samarinda, Kukat, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkarya, Pangklanbun, dan Ketapang. Bahkan setiap jengkal tanahnya. Saya terpesona.

Rambu dibuat untuk dilanggar. Begitu juga peraturan. Bahkan hidup kita sendiri sering melanggar kesepakatan bermasyarakat. Saya dan kamu. Kita semua. Begitulah fenomena langgar-melanggar di kehidupan kita.

Setiap pergi, tentu akan muncul rasa rindu untuk pulang. Tapi kita ini rindu yang tersayang atau rindu kampung halaman?

Ekspresikan dirimu lewat puisi anak. Silakan menikmati puisi-puisi saya di sini. Sungguh lega rasanya jika hati gundah-gulana atau bersuka-cita, kemudian berhasil menyalurkannya lewat puisi. Semoga anak-anak Indonesia suka dengan puisi anak yang saya tulis ini.

Dakwah lewat puisi adalah cara yang efektif. Memang tidak langsung mengubah keadaan, tapi itu bisa jadi penyejuk jiwa-jiwa yang mati.

Dakwah lewat puisi. Jiwa sedang bahagia? Gelisah? Sentimentil? Jangan demo turun ke jalan. Itu menggangguk ketertiban masyarakat. Nulis puisi saja, ya!