Endang keluar dengan muka berseri-seri, ia bersalaman dengan saya dan menyilakan duduk di bangku besi berwarna putih. Endang membuka freezer dan menyodorkan minuman botol kecil rasa jahe. Saya membukanya. Dua kali tegukan tanpa basa-basi saya langsung menyampaikan maksud tujuan datang ke outlet Geprek Dewek untuk menemuinya.

“Saya ingin mewawancarai Kak Endang atas dasar perintah dari Gol A Gong dan hasil wawancaranya nanti akan ditayangkan di golagongkreatif. Apakah Kak Endang bersedia?” jelas saya kepada Endang sambil mengeluarkan handphone sebagai alat rekam.
“Oooh siap-siap. Saya pikir cuma mau liputan Geprek Dewek doang, ternyata juga bikin profil,” kata Endang sambil mengubah posisi duduknya.

“Sebelum memulai pertanyaan tentang bisnis, saya mau bertanya soal karir kepenulisan,” saya memulai pertanyaan.
Di luar dugaan Endang Rukmana nampaknya sudah tidak minat ditanyai dunia kepenulisan. Barangkali, antara menulis dengan dirinya sudah sangat renggang.
“Kalau nanya-nanya tentang menulis kayaknya udah nggak relate,” kata Endang.
Saya memutar otak seribu kali lebih cepat dari biasanya. Tanpa basa-basi pertanyaan tentang dunia bisnis bertubi-tubi saya tanyakan kepada Endang.
“Saya melihat Kak Endang dulu seperti pengangguran. Menulis tidak, berkerja barangkali juga tidak sama sekali, tapi tiba-tiba Kak Endang bisa memulai bisnis ini dengan begitu dahsyat. Bagaimana jalan ceritanya?” tanya saya

“Memang pada saat itu saya berada dalam posisi yang sangat terpuruk, tetapi saya bangkit sedikit demi sedikit. Saya mencoba jualan apa saja—karena dunia dagang dan menulis—kala itu adalah jalan hidup saya. Kemampuan menulis dari kondisi terpuruk itu saya manfaatkan untuk membuat konsep dagang. Akhirnya ketemu nama brand yang sebelumnya ikut ke temen. Danf akhirnya membuka warung geprek sendiri,” katanya.
Saya merasa tidak puas dengan jawabannya. Saya mencoba mengejar jawabannya tadi soal Geprek Dewek yang didirikannya pada April 2020 itu. “Awal mula kepikiran membuka usaha geprek itu bagaimana? Apakah pada saat itu lagi musim geprek?” tanya saya.

Nampaknya Endang sudah mulai mau terbuka dengan pernyataan itu. “Memang kebetulan kenal teman yang menawari usaha geprek. Selain itu, geprek udah kayak makanan seperti warteg dan nasi Padang. Berbeda dengan Es Kepal, itu musiman. Kalau ayam sama sambel itu nggak musiman dari dulu juga kita makan ayam dan sambel,” katanya.
Endang memberikan contoh bahwa masyarakat Indonesia sudah terbiasa makan ayam dan sambel. “Ayam KFC udah berapa tahun. Ayam dan sambal itu sudah menjadi makanan keseharian!” tegas Endang.
“Membutuhkan berapa tahun sampai bisa sebesar ini usaha gepreknya, Kak Endang?” tanya saya.
“Buka beberapa bulan sebelum pandemi. Masa keemasan saya itu sebenarnya masa pandemi. Kala itu harga cabai masih murah dan segala-galanya masih murah. Itulah mengapa kala itu saya bisa menjual ayam geprek 10 ribu sama nasi. Sekarang udah nggak bisa. Masih ada sih, tapi bukan pakai sambal tapi pakai saos,” katanya.
Endang termenung sejenak membayangkan harga cabai masih murah. “Dulu cabai perkilo pernah 12 ribu kalau sekarang 100 ribu perkilo. Saya pernah nombok rugi 4 juta perhari,” sambung Endang.
“Dengan harga cabai selangit, Kak Endang masih menjual harga 10 ribu perporsi,” saya meyakinkan.
“Betul, akhirnya sedikit-sedikit saya naikkan harganya,” katanya.
Endang menjelaskan bahwa setahun pertama usaha gepreknya sudah memiliki empat cabang. Bulan pertama ikut dengan temen, bulan ketiga buka Geprek Dewek sendiri. Bulan kedua buka di Benggala dan bulan berikutnya di Ciracas tepatnya samping Ramen Naruto. Tidak menunggu lama, cabang Pakupatan.
Saya terpukau oleh keberhasilan Endang Rukmana. Hanya membutuhkan waktu yang singkat, ia sudah bisa membuka beberapa cabang di berbagai tempat. “Tantangannya apa sih saat memulai bisnis?” tanya saya sambil menegak minuman jahe.
“Hal pertama yang harus diperhatikan dalam membuka usaha adalah harus memiliki keyakinan kuat, maksudnya jangan coba-coba. Kalau langsung buka sendiri nggak tahu tekniknya bisa gawat. Jadi awalnya harus ikut dulu ke orang lain,” katanya.
“Tantangannya harus banyak belajar. Jangan ujug-ujug kayak orang buka usaha martabak besoknya buka es kelapa. Padahal semua ada strateginya. Kalau pakai cara konvensional kadang nggak ada yang beli bisa sampai tiga bulan,” tambahnya.
“Jadi Kak Endang tidak memulai sendiri, tapi belajar dulu ke orang lain?” kata saya sekedar meyakinkan.
“Iya,” ujarnya.

Modal Pinjaman Bisa Menjamin
Endang merasa bersyukur dalam kondisinya yang terpuruk sekalipun ia tetap menulis di halaman Facebook. Ia mencurahkan pemikirannya sembari rebahan yang berkaitan dengan isu politik, sosial, agama, dan budaya. Dari keresahannya itu, ternyata ada orang yang membaca—memiliki pandangan ideologis yang sama.

Akhirnya Endang dihubungi oleh teman Facebooknya yang sama sekali ia tidak dikenal sebelumnya. Menurut penuturan Endang kepada saya, dia ditemui oleh orang-orang kaya dan memiliki posisi yang hebat dalam dunia bisnis di Indonesia.
“Ternyata orang-orang yang satu pemikiran itu ngontak saya. Dan ternyata yang ngajak ketemuan itu orang-orang hebat. Orang-orang kaya,” kenang Endang yang masih tidak menyangka dipertemukan dengan orang kaya wasilah Facebook.

“Itu meja-meja bekas soto Betawi hasil dari pemberian orang lain. Padahal dia kenal saya hanya dari Facebook. Dia dari Jakarta ke Serang ngasih meja-meja ini,” Endang menunjukkan meja berwarna putih kepada saya.
Endang juga mengaku ditawari modal oleh orang Karawang. Orang Karawang itulah yang menyarankan Endang untuk membuka bisnis geprek. “Modal dipinjemin asalkan katanya ‘omat’ maksudnya amanah. Saya sebagai catatan nggak minta. Pak tolong saya pinjemin,” ujar Endang sambil tertawa.

“Saya nerimanya agak khawatir sama ibu. Saya cicil sampai 10 bulan. Bukan hanya lunas 10 bulan, tapi saya udah punya outlet Geprek Dewek 3 cabang. Kayaknya dia orangnya puas sih karena pencapaian saya,” katanya.
“Boleh disebutkan siapa yang meminjamkan uang?” Tanya saya yang penasaran.

“Boleh. Namanya Pak Aking. Beliau orang keturunan (Tionghoa). Bukan saudara bukan apa. Tapi secar ideologis, secara pemikiran kami banyak nyambung,” ujarnya.
“30 juta. Terbayar dalam waktu 10 bulan. Itu sih luar biasa bagi saya. Ada orang nggak kenal, tapi berani minjemin. Kalau saya sendiri sih nggak berani minjemin orang yang nggak saya kenal. Bersyukur saya bisa menjaga kepercayaan itu,” katanya.


