Dari Faktor Hoki ke Berani Happy-Happy
Saya tertarik mendalami kerja keras Endang. Namun, masih ada yang mengganjal dalam hati. “Selain daripada kerja keras, apakah yang membuat bisnis ini maju?” tanya saya kembali.

“Faktor hoki. Saya kalau buka dari dulu mungkin akan ragu bisa sebagus ini hasilnya. Terus saya juga selalu mencoba berpikir apalagi-apalagi setelah satu cabang,” katanya.
Saya dapat menyimpulkan bahwa Endang selalu memiliki rasa tidak puasl dengan setiap capaian-capaian yang ia raih—pada akhirnya selalu ingin berinovasi.

“Dulu dapat uang satu juta itu udah puas banget. Saya kemudian berpikir inovasi apalagi yang harus saya buat. Misalnya, ayam geprek pakai nasi uduk. Apalagi terobosan barunya. Yang tidak orang lain lakukan adalah buka 24 jam. Saya melihat geprek makanan instan dan kalau dimakan di malam hari itu enak, lezat,” terangnya.
“Warung-warung lain pada tutup. Saya membaca peluang ditambah sekarang ada Go-Food. Akhirnya buka 24 jam,” sambungnya.

Endang mengaku orang pemalas, tetapi kalau memiliki keinginan ia selalu mewujudkannya dengan kerja keras. “Saya dulu tidur di bawah etalase. Megang golok atau pisau. Ada gerakan sedikit saya langsung bangun,” katanya membayangkan saat merintis usaha geprek.
Endang menceritakan suka dukanya mengolah bisnis kepada saya. Endang mengaku pernah mendapatkan omset 13 juta perhari bahkan sesial-sialnya ia pernah 35 ribu dalam kurun 24 jam buka warung geprek.

“Saya mau buka terus. Puncaknya di Benggala itu pernah rekor satu hari satu malam (harmal) bisa mendapatkan omset 13 juta. Satu outlet karyawannya lima orang, nggak berhenti-henti kerja. Mereka bahkan nggak ada istirahatnya. Saya ngasih harga 10 ribu. Ngambil nasi sepuasnya dan sambalnya juga ngambil sendiri. Masih murah dulu jadi buah bibir,” ujarnya.

Selain menceritakan masa keemasan Endang belajar memiliki dan meracik ayam geprek miliknya. “Saya pernah mengalami ayam dibuang 60 kilo. Racikannya harus dicari-cari. Saya banyak belajar dari hal-hal kecil seperti menggoreng, mengolah tepung, dan semacamnya,” ujarnya.
“Berapa karyawan sekarang yang dipekerjakan?” tanya saya.
“35 orang pernah. Sekarang sisa 20 dikurangi gara-gara banyak kenaikan bahan-bahan,” jelasnya.
Saya mengeluarkan pertanyaan pamungkas. “Hal unik apa yang pernah Kak Endang dapatkan saat mendulang kesuksesan ini?”

“Merasakan hidup yang lebih baik. Dulu rumah saya di Kaujon depan kuburan panas banget. Saya bisa mandi sehari tiga kali. Sekarang hidup lebih nyaman AC terus. Itu hal-hal kecil yang tidak bisa saya nikmati. Sekarang apa aja bisa dibeli,” katanya sambil tersenyum.
Endang menceritakan bahwa dulu, ia sering minder saat diundang oleh temannya baik di acara pernikahan maupun reunian. “Ketemu teman saya dulu takut, karena nggak ada duitnya apalagi ketemu cewek temen aja takut,” ujarnya.

Sekarang Endang mengaku usahanya sedang survive. Ia enggan menambah cabang lagi seperti dulu sampai tujuh outlet. Kini, ia mengaku sedang membenahi SOP bekerja karena beberapa kali Endang sering dicurangi oleh karyawannya sendiri —tepatnya korupsi.
Endang mengaku telah memecat 5 orang karyawannya yang disinyalir telah melakukan tindak korupsi. Sekarang, Geprek Dewek yang buka 24 jam—hanya mempertahankan 3 cabang dan sedang mempertahankan kualitas.
Geprek Dewek, ‘Kalau Lapar Nggak Kenal Waktu’. Yuk maka yuuuk.*


