Essay: Lelaku Puasa Kanjeng Nabi

Bukankah itu pola-pola puasa, mengerem kehancuran menjaga keselamatan?
Rasul berpuasa dari gila hormat dan popularitas. Beliau melarang orang berdiri dan menundukkan kepala berlebihan dalam menghormatinya. Ia tidak mempunyai tempat khusus dan istimewa di ruang-ruang pertemuan (di masjid atau majelis) sebagaimana dai dai atau pemuka agama saat ini. Saat ada tempat yang masih longgar, disitulah beliau akan menempati.

Bahkan Allah tak mengizinkannya sekadar mempunyai anak lelaki, Qosim diambil Allah saat masih kecil. Menantunya dibunuh orang. Cucu pertamanya diracun istrinya sendiri. Cucu kedua tak hanya dibunuh bahkan dimutilasi, kepalanya dipenggal lalu diseret pasukan berkuda sejauh ratusan kilo meter sehingga kuburannya ada di dua tempat. Tak mungkin manusia bisa kuat menerima kenyataan pedih memilukan seperti itu tanpa lelaku puasa.

Saat diracun Zaenab, beliau memilih dirawat di rumah Aisyah ketimbang di kediaman Maimunah. Beliau ingin semua orang bebas membezoeknya. Karena jika dirawat di rumah Maimunah yang masih keluarga dekatnya, khawatir orang lain yang hendak menjenguknya tidak leluasa.

Beliau, Kanjeng Nabi bahkan berpuasa dari kepentingan pribadinya. Seluruh hidupnya ia wakafkan untuk melayani kepentingan orang banyak.

Jika pulang terlalu larut malam setelah khusyuk tahajud di masjid, beliau tak tega sekadar membangunkan istrinya dan memilih meringkuk tidur beralaskan kayu di luar rumahnya. Kalau kita, mungkin akan gedor-gedor pintu tanpa peduli bagaimana lelah dan jenuhnya sang istri mengurusi dan membereskan keadaan rumah setiap hari.

Saat Pamannya Hamzah dadanya dikoyak dan jantungnya dijebol dikunyah-kunyah Hindun dengan keji, Kanjeng Nabi berpuasa dari melakukan pembalasan yang dengan mudah bisa beliau lakukan. Beliau lebih memilih kemuliaan dengan cara memaafkan.

Sungguh tak terhitung nilai-nilai puasa yang dilakukan Kanjeng Nabi, baik yang terrekam catatan sejarah maupun yang tak sempat kita ketahui.

Diusir dari Mekah, dilempari dengan kotoran unta, diludahi, tak membuatnya membalas dengan perkataan atau keluhan sedikit pun. Saat mencari suaka di negeri Thaif beliau justru dihujani hujatan serta lemparan batu. Beliau sama sekali tak marah, bahkan beliau menolak tawaran malaikat dan gunung yang bersedia meluluh-lantakkan orang-orang yang menganiayanya, beliau lebih memilih menengadahkan tangan untuk mendoakan agar dikemudian hari anak cucu mereka mendapat cahaya hidayah Allah.

Adakah yang sudah kita teladani dari beberapa cuplikan prikehidupan Kanjeng Nabi di atas? Wallahu alam. *

*) Foto-foto hanya ilustrasi saja/dok.golagongkreatif.com

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Satu klik robot dapat membawa Anda ribuan dolar.] )) https://topinnews.info/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==