Sudah tiga kali ini aku menemukan bangkai tikus tanpa kulit di halaman rumah.
Menyisakan daging merah yang membuatku mual setiap kali melihatnya. Beberapa hari
terakhir aku dibuat curiga oleh kucing liar yang sering duduk manis di depan pagar,
menunggu mangsa berikutnya. Tatapannya tajam, seolah-olah tahu aku sering
memperhatikannya.
Kecurigaanku semakin besar setiap kali mendengar suara cakaran dari luar rumah.
Bayanganku jelas, kucing itulah yang memburu tikus-tikus malang itu. Jika diingat lagi baru
kali ini aku melihat kucing memangsa tikus dengan mengulitinya terlebih dahulu, itu
sangatlah kejam sekaligus seram. Tapi aku berusaha biasa saja dan tidak menghiraukan
kejadian itu. Selain membuatku mual, tetap saja bayanganku tidak jelas apakah benar kucing
itu pelakunya?.
Aku sempat menceritakan kejadian ini kepada temanku, Mili. Ia menatapku heran
sembari mengerutkan kening, “Bisa jadi memang kucing itu pelakunya, bukankah wajahnya
seram?”
Aku berpikir sejenak, membayangkan kembali wajah kucing itu yang memang
tatapannya tajam dan menakutkan. “Mili, kamu benar, kucing itu sangat menakutkan,” kataku setuju.
Mili mengangguk singkat lalu pergi begitu saja, aku khawatir jika ceritaku ternyata membuat dia
tidak nyaman.

Malam itu aku memutuskan untuk terjaga. Bangkai-bangkai tikus itu terus saja
menghantui pikiranku, susah rasanya untuk sekadar memejamkan mata. Aku menunggu
hingga tengah malam, ingin sekali menangkap basah si kucing kejam itu.
Namun malam itu apa yang kulihat dibalik tirai jendela kamar membuat tubuhku kaku
seketika, mulutku terbungkam dan telingaku terasa berdenging. Pelakunya bukanlah kucing,
melainkan seseorang yang sedang jongkok di tanah. Dengan senyuman tipis, tangannya
cekatan menggores tubuh tikus itu dengan pisau kecil.
Ia menyadari keberadaanku, matanya menatap lurus ke arahku. Senyuman itu
perlahan berubah menjadi dingin. Cahaya bulan menyingkap wajahnya, dan aku sadar..
bukan kucing yang harus aku curigai, tapi orang yang pernah menanyakan kepadaku, “Bukankah kucing di depan rumahmu itu wajahnya seram?”
Kucing berwajah seram itu temanku: Mili.
oOo



TENTANG PENULIS: Amirotul Fatin, tinggal di Jln pantai paseban, Dsn igir-igir RT 07, RW 011, Cakru, Kencong, Jember. Nomor tlp : 081353457319. Email : amirotulfatin@gmail.com.

FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



