Gajah di Kampung Kami

Kampung kecil itu dulu damai. Anak-anak bermain layangan di sawah, ibu-ibu menjemur pakaian sambil tertawa, dan suara azan dari surau kecil menjadi penanda waktu yang hangat. Hidup memang sederhana, tapi tak ada yang kekurangan. Semua saling kenal, saling bantu, dan saling jaga.

Sampai suatu hari, gajah itu datang.

Bukan gajah betulan — tapi seseorang yang datang dengan jas mahal, dasi licin, dan rombongan berseragam hitam yang penuh tatapan tajam. Dia membawa peta besar dan janji-janji pembangunan. Katanya, kampung kami akan dijadikan kawasan ekonomi baru. Akan ada apartemen, jalan tol, dan pusat perbelanjaan. Akan ada “kemajuan”.

Tapi kami tidak pernah merasa tertinggal. Yang kami punya memang hanya rumah papan, tapi di sinilah kenangan tumbuh. Di sinilah kakek-nenek kami dimakamkan. Di sinilah anak-anak kami belajar tentang hidup.

Tak ada ruang untuk penolakan.
Esoknya, pagar dibongkar. Lahan dibuldozer. Air bersih tercemar. Asap dan debu mengaburkan langit kami.

Kami, orang-orang kampung, hanya bisa berdiri di pinggir jalan sambil memeluk apa pun yang tersisa. Dapur reyot. Sepotong foto keluarga. Baju sekolah yang belum sempat dicuci.

Yang menggusur tidak menatap kami. Mereka hanya menatap target.
Seperti gajah masuk kampung — tak peduli siapa yang terinjak, asal jalannya terbuka.

Kami terusir dari tanah sendiri. Dan gajah itu? Dia melenggang pergi dengan senyum di layar televisi, dipuji sebagai pahlawan pembangunan.

Tapi kami tahu kebenarannya.
Kami tahu, dia bukan pahlawan.
Dia cuma gajah — dan kampung kami tak lebih dari semak yang harus dilenyapkan.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==