Banyak penulis puisi yang tidak memedulikan “sense” (makna), arti suatu pokok persoalan, sehingga yang terasa akrobatik kata saja.

WS Rendra sebetulnya mencontohkan dengan sajak pamflet berjudul Sebatang Lisong yang terang dan terbuka, tapi memiliki sense tentang gap sosial (dalam pendidikan juga) dan penguasa dzolim. Para penulis puisi banyak melewatkan persoalan ini. Saya juga sedang belajar ke arah sana. Silakan baca puisi saya ini:

KOTA TAK BERNYAWA
Ketika di dalam kereta, aku tak sanggup melihatmu dari jendela. Stasiun bukan lagi perhentian. Ia jadi pemberangkatan. Lihatlah, bangku di depanku kosong. Untukmu. Kau ada di peron? Bahkan senyumanmu tertelan kabut kota. Kau sibuk dengan perayaan. Pelangi telah jatuh di kota. Kau salah satu warnanya. Senyummu di setiap persimpangan. Wajahmu jadi penuh debu. Usang dalam kiasan. Sudah lama kota kita tak bernyawa. Tadinya kita akan melahirkan kota baru. Senja terlalu cepat datang. Kita bergegas ke kamar tidur. Terkurung dalam ketakutan.
*) Serang, 9/1/2016

