Dari buku, semua sumber informasi kita dapatkan. Dengan menggauli buku kita bisa terlihat lebih pintar dari orang-orang biasa, karena segala informasi di dalam otak kita tak pernah surut untuk digali. Namun, saat ini ada yang ganjil dari benda berisi teks bacaan tersebut. Semua masyarakat mulai mewanti-wanti keberadaannya. Ya, buku mulai menjadi teror yang menakutkan.

Sejak terjadi insiden paket buku yang dikirim ke alamat kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan Kayu, Jakarta, khususnya kiriman paket buku tersebut dituju untuk ketua JIL, Uli Abshor Abdallah. Insiden itu telah menimbulkan ancaman yang mengerikan, bahkan paket berisi buku tersebut berisi rakitan bahan kimia yang bisa meledak. Terbukti, paket buku tersebut meledak ketika diperiksa oleh unit Kabareskrim yang berusaha memadamkan isi rakitan kimia bernama bom dalam buku tersebut dengan menggunakan air, yang melukai dua orang petugas Kabareskrim, sebelum tim Gegana datang di lokasi.

Sejak peristiwa tersebut, buku mulai dicurigai bahkan menjadi benda yang rendah di mata masyarakat. Insiden yang terjadi di kantor JIL Utan Kayu, Jakarta tersebut telah menghembuskan stigma traumatik kepada masyarakat untuk menghindari barang kiriman paket berupa buku. Pemberitaan mengenai buku pembawa malapetaka telah merebak ke seluruh Indonesia. Bahkan masyarakat awam yang tidak tahu menahu ikut merasa terancam keamanannya sehingga ketika ada kiriman buku yang tidak diketahui maupun diketahui pengirimnya, disinyalir berisi bom. Sungguh ironis.

Jika kondisi tersebut terus bergulir, kemungkinan akan memberikan dampak kurang baik untuk keharmonisan hidup di masyarakat. Pasalnya, pemberitaan yang terus-menerus mengenai insiden buku berisi bom tersebut telah menjadi bayang-bayang buram bagi masyarakat. Seharusnya, hal tersebut harus segera ditangani oleh pemerintah agar rakyat tidak di bayang-bayangi rasa takut.

Kecurigaan terhadap paket buku berisi bom tersebut jangan dijadikan isu yang berlebihan. Setiap kali masyarakat yang mendapatkan kiriman baik dalam bentuk kotak dus dan sebagainya, dianggap kiriman yang mencurigakan, sehingga ketika diperiksa lagi-lagi nihil alias salah paham. Paket kiriman yang seharusnya sampai ke tangan penerimanya ternyata harus dihancurkan karena dicurigai berisi bom.

Dampak pemberitaan yang terus dihembuskan mengenai paket buku berisi bom telah memengaruhi masyarakat. Hal itu, terbukti banyak paket kiriman yang diledakkan oleh Tim Gegana karena pemiliknya telah terpengaruh dengan pemberitaan negatif tersebut. Padahal, belum tentu paket kiriman tersebut berisi bom.
Jika kita berpikir dengan logika yang rasional tentang pemberitaan dan insiden paket buku berisi bom tersebut. Kemungkinan kecurigaan yang berlebih tersebut tidak mampir dalam benak kita. Karena hal itu tidak relevan dengan paket buku yang dikirim ke kantor JIL untuk ketua JIL – Ulil Abshor Abdallah dengan kita warga sipil yang tidak tahu menahu pangkal persoalannya.

Kalau di analisis lebih dalam mengenai paket buku berisi bom yang dituju ke kantor JIL ini ada hubungannya dengan pengalihan isu politik yang sedang merebak di negeri ini. Seperti biasa, negeri ini memang ramai dengan peralihan isu yang bermunculan kemudian sepi kembali. Peralihan tersebut seperti sudah direncanakan untuk mengelabui masyarakat agar melupakan isu yang dulu sudah merebak. Wah, benar-benar panggung sandiwara negeri ini.

Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tidak tahu-menahu, janganlah berlebihan menanggapi pemberitaan tentang insiden paket buku berisi bom tersebut. Saya tegaskan lagi paket buku berisi bom tersebut ada hubungannya dengan strategi pengalihan isu politik. Oleh karena itu, masyarakat jangan terlalu panik menyikapinya. Sebab, hal itu dapat berpengaruh terhadap tatanan keharmonisan hidup. Kecaman keras terhadap oknum yang telah merendahkan buku dan menggunakannya untuk hal-hal yang kurang baik. Sadarlah! Benda berisi teks tulisan itu adalah sumber ilmu. Janganlah menyia-siakan.(*)
Serang, 21 Maret 2011
*) Penulis adalah relawan Rumah Dunia , bekerja di MNC Group Jakarta


