Jeritan 15 Perempuan dalam Puisi Esai

Setelah 12 tahun sejak kemunculan puisi esai yang digagas Denny JA pada 2012, saya melihat ada peningkatan kualitas dari puisi esai yang ditulis. Tadinya saya berpikir, seiring waktu puisi esai akan redup.

Puisi esai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah karya sastra yang menyampaikan pesan moral dan sosial melalui kata-kata sederhana. Puisi esai memiliki pola berbait-bait dan bisa berupa fakta, fiksi, dan catatan kaki.

Saya merasa, puisi esai cocok untuk manula seperti saya. Tahun 2025 ini umur saya 63 tahun. Bagi saya saat menuliskannya lebih terbantu karena mesti melakukan pencarian fakta dan data. Saya memang bukan penulis puisi yang diam di kamar, mencari-cari diksi puitis. Saya menulis buku kumpulan puisi Air Mata Kopi (Gramedia 2014) melakukan riset-observasi selama 50 hari sepanjang Apri-Mei 2013, mulai dari Sabang hingga Lampung.

Ketika saya meriset dan mencari fakta dan data untuk 15 puisi esai yang akan saya tulis, astaghfirullah. Merinding saya. Muak, mual, kecewa, marah. Betapa jahatnya kaum lelaki Indonesia terhadap para perempuan Indonesia.

Ini ada bocoran rencana 15 puisi esai yang akan saya tulis:

JERITAN 15 PEREMPUAN
Kumpulan Puisi Esai Gol A Gong

Mereka akan melahirkan Ibu
melahirkan Anak-cucu kita
di masa depan

tapi kita memerkosa
membunuh
mengubur tanpa nisan
bahkan memotong tubuh mereka
jadi potongan kecil seperti satai

Begitulah kita
para lelaki
memperlakukan perempuan

oOOo

Pesan Puisi Esai:

1. Moral sedang tidak baik: Saya ingin menyampaikan pesan bahwa Indonesia dari segi moral sedang tidak baik. Bayangkan, ada sekitar 6 agama besar di Indonesia, tapi para lelakinya begitu jahat; mereka memerkosa dan membunuh perempuan yang mungkin itu saudara kita, istri kita, atau bahkan anak kita. Tapi saya akan mencoba menyampaikannya dengan diksi-diksi yang puitis dan menyentuh.

2. Perlakuan tidak Manusiawi: Ada 15 puisi esai yang sedang saya garap, ini menggambarkan kesedihan dan kepedihan yang mendalam terhadap perlakuan yang tidak manusiawi dari lelaki Indonesia terhadap perempuan Indonesia. Saya ingin menyuarakan ketidakadilan dan kekerasan yang dialami perempuan Indonesia, yang seharusnya dihargai dan dilindungi, tetapi malah menjadi korban kekejaman.

3. Autokritik tajam terhadap perilaku laki-laki Indonesia: Lelaki Intodnesia tidak menghormati hak-hak perempuan Indonesia, menggambarkan bagaimana perempuan telah dimanipulasi dan disakiti, bahkan dalam aspek yang paling mendalam seperti peran mereka sebagai ibu dan pencetak generasi masa depan.

Saya ingin menyampaikan pesan, bahwa sangat penting menghargai martabat dan hak perempuan Indonesia, serta betapa buruknya konsekuensi jika kita mengabaikan atau bahkan menyakiti mereka. Ini adalah panggilan untuk merenung dan memperbaiki cara kita memandang dan memperlakukan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Tim GoKreaf

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==