Kita Belum Merdeka Belajar

Saya selalu bersemangat di pelajaran itu, terlebih saat pengampu pelajarannya adalah Ayu-sensei (sensei adalah panggilan khusus bagi guru, dokter, penulis dan lain sebagainya sebagai tanda penghormatan) yang parasnya cantik seperti orang Jepang. Saya merasa sangat ikhlas dan senang jika seandainya semua mata pelajaran diganti mata pelajaran tersebut. Saya yang masuk di jurusan IPA selalu mengkhayal ingin pindah ke jurusan bahasa, namun sayang itu hanya sebatas khayalan, karena jurusan bahasa telah ditiadakan di sekolah saya bertahun-tahun sebelumnya.

Meskipun saya masuk di jurusan IPA, saya kewalahan di pelajaran yang mengharuskan saya untuk menghafal rumus-rumus dan melakukan tugas hitung-menghitung seperti matematika, fisika dan kimia. Saking kewalahannya, pada ulangan harian pelajaran biologi, saya ingat betul momen itu, saya pernah mendapatkan nilai nol! Saya benar-benar ambyar di pelajaran-pelajaran yang jatah jam pelajarannya paling banyak di jurusan saya.

Di pelajaran olahraga dan komputer, saya juga tak bisa berbuat banyak—saya tak punya komputer di rumah dan fisik saya lemah. Di pelajaran seni (musik), saya cukup tertarik, karena saat itu saya sedang demen belajar gitar dan ingin membentuk sebuah band. Minat saya pada pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Sunda agak mending daripada pelajaran-pelajaran tadi, karena guru-gurunya santuy dan kebetulan bahasa ibu saya adalah bahasa Sunda, jadi saya bisa mengikuti alur pembelajaran dengan cukup baik.

Saat kuliah (2011-2016), saya masuk jurusan Tadris Bahasa Inggris di IAIN (kini UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, padahal tujuan utama saya adalah—dan saya juga diterima di—jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), namun karena keterbatasan biaya saya diharuskan memilih IAIN. Tapi tak mengapa, toh masih sama-sama di koridor bahasa.

Di semester kedua kuliah saya bergabung dengan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-19 yang diasuh oleh novelis Gol A Gong (kini dinobatkan sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025) dan Majelis Puisi Rumah Dunia yang digawangi oleh penyair kondang Toto ST Radik. Sejak itu saya tertarik dan senang membaca dan belajar menulis karya sastra. Pada jam-jam kosong atau sebelum dan sesudah kuliah, saya sebisa mungkin meluangkan waktu untuk membaca buku-buku puisi, cerpen, novel dan esai serta berlatih menulis. Beberapa kali tulisan saya dimuat koran lokal dan nasional dan mendapatkan honorarium.

Saya kemudian paham: yang terjadi pada diri saya merupakan apa yang disebut pakar psikologi dan pendidikan Howard Gardner sebagai kecerdasan linguistik dalam teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Kecerdasan linguistik adalah salah satu kecerdasan alamiah dalam bidang bahasa. Orang yang memiliki kecerdasan ini belajar dengan cara memaksimalkan indra pendengaran, indra penglihatan (membaca), lisan (berbicara) dan menulis. Orang dengan kecerdasan linguistik senang berbicara, menulis dan tertarik pada bahasa-bahasa asing. Selain kecerdasan linguistik, dalam teori kecerdasan majemuk, ada kecerdaasan logis-matematis, kinestetik, visual-spasial, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. bagaimana caranya bisa bergabung di kelas menulis rumah dunia?

    1. datang saja ke Rumah Dunia. Ada REndez-vous Cafe. Tanya ke Abdul Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==