Merdeka Belajar
Saya sejatinya telah mengalami dua kali, dalam fase dan waktu yang berbeda, proses merdeka belajar, yaitu belajar bahasa Jepang saat SMA dan belajar sastra saat kuliah, meski itu di luar fokus akademik saya. Saya benar-benar merasa merdeka dalam belajar saat mempelajari apa yang saya minati. Dan itu sangat menyenangkan. Tak ada rasa kecewa atau penyesalan yang datang sama sekali saat melakoninya. Tak ada beban. Tak ada tekanan. Yang ada adalah motivasi dan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap apa yang dipelajari dan digeluti. Apa yang saya pelajari masuk ke otak dan berumah di dalam hati.

Seandainya konsep merdeka belajar itu benar-benar diterapkan di sekolah di seluruh Indonesia, saya optimistis, akan tumbuh dan berkembang dengan pesat generasi emas bangsa ini dalam bidang yang beraneka ragam. Konsep merdeka belajar yang dimaksud di sini ialah para siswa merdeka untuk memilih pelajaran yang diminatinya sesuai dengan kecerdasan alamiah dirinya, sesuai dengan fitrah masing-masing. Itu yang disebut dengan memanusiakan manusia.

Alangkah menyenangkan melihat anak-anak belajar dengan rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi terhadap bidang yang diminatinya setiap hari, bukan? Tanpa disuruh pun, percayalah, mereka akan giat belajar, karena itu adalah minat dan bakatnya, karena itu adalah dirinya yang sahih.
Apabila sistem pendidikan kita seperti itu, betapa menggembirakan. Namun, jika sistem pendidikan kita masih memaksakan (ya, memaksakan!) para siswa untuk mempelajari belasan pelajaran dalam setiap semester, sejatinya kita belum menerapkan sistem pendidikan merdeka belajar. *

Ardian Je, penulis dan pendidik; relawan Rumah Dunia. Kini ia mendidik di SMP Unggulan Uswatun Hasanah Cilegon. Buku mutakhirnya bertajuk Mendekatkan Siswa pada Buku (Gong Publishing, 2020).


bagaimana caranya bisa bergabung di kelas menulis rumah dunia?
datang saja ke Rumah Dunia. Ada REndez-vous Cafe. Tanya ke Abdul Salam