Komunitas: Lapik 94 Garap Film Dokumenter Performatif Tentang Maestro Calung Renteng Abah Kalimi

Eky Tamamul Fikri (30) tim kreatif Lapik 94 sekaligus sutradara film Buni Hieum mengatakan, pembuatan film ini merupakan kerja sama dalam program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Kemendikbudristek 2022. Eky menjelaskan pendekatan dokumenter dengan ragam performatif menjadi pilihannya kali ini.

“Lewat pembuatan film dengan ragam performatif ini saya ingin menitikberatkan pada pengalaman subjektif dan respon emosional saya secara pribadi. Sajian hipotesis yang ada dalam pertunjukan adalah interpretasi dari ruang-imagi yang bersumber dari realitas yang terekam dalam memori subjek,” kata Eky kepada wartawan, Jumat (14/10/2022).

Saat ditanya kenapa memilih mengangkat tema tentang calung, Eky mengaku lantaran ada banyak cerita yang terekam dalam memori Abah Kalimi (maestro calung renteng) asal Pandeglang ini. “Tentang huma yang riuh saat musim tanam berlangsung. Tentang omprang dan calung yang saling bersahutan saat itu. Tentang suara-suara yang dilantunkan untuk menghibur Nyi Pohaci (Dewi Padi atau Dewi Sri menurut kepercayaan masyarakat Sunda), kini mulai menyepi. Perlahan masyarakat mulai meninggalkan tradisi ini,” jelas alumni Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Banten ini.

Untuk proses produksi film ini, diakui Eky memakan waktu empat bulan. Sama seperti proses pembuatan film pada umumnya.

“Kami memulai proses praproduksi pada bulan Juli sampai Agustus, dari mulai riset, pengembangan ide cerita, sampai mempersiapkan hal-hal teknis untuk persiapan produksi dan pasca produksi pada bulan September sampai Oktober,” jelas Eky.

Sementara tantangan dalam menggarap film ini, dijelaskan Eky, lumayan menantang baginya. Karena selain merekontruksi memori seorang maestro seni tradisi (calung renteng) film dokumenter dengan ragam performatif “Buni Hieum” juga coba menyentuh peristiwa mitologi masyarakat Sunda Lama yang disajikan dalam bentuk seni pertunjukan dan simbol artistik di dalamnya. “Lumayan sulit untuk bisa mengaplikasikan bentuk-bentuk surealis dalam konteks film dokumenter,” paparnya.

Lewat film ini, Eky ingin menyampaikan kepada para penonton antara lain untuk terus mendukung kemajuan kebudayaan.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==