“Al Bahri, itu lautan?” Chandra tidak sabar.
“Bukan sekadar lautan. Lebih dari itu…,” kedua mata Al Bahri menerawang jauh, ke sebuah kapal kayu yang dihuni pengungsi Aceh di era DOM. “Setelah melahirkan aku, Ibu meninggal. Nahkoda kapal mengubur ibuku ke laut. Jadi aku tidak akan bisa makan ikan, karena selalu merasa memakan jasad ibuku.”


Chandra memegangi tangan Al Bahri. “Aku minta maaf sayang, sudah mengorek kisah sedihmu itu.”
“Aku yang meminta maaf, karena tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kisah itu. Sekarang aku lega. Batu besar yang menindih tubuhku serasa sudah hilang….”

Halaman: 1 2


Cerita novel yang luar biasa.
Alhamdulillah. Semoga bermanfaat ya.