Akhirnya kali keempat ke kecamatan berhasil perekaman data. Disarankan hari kerja berikutnya pagi-pagi datang ke Disdukcapil untuk mencetak ka te pe. Diingatkan agar datang pagi, pukul 6 untuk mengambil nomor antrean lalu bisa ditinggal dan datang di saat kantor buka.

Awalnya aku malas juga datang terlalu pagi cuma buat ambil nomor. Bukankah sudah ada pembenahan sistem, seharusnya lebih efektif dan efisien dong ya. Demi mengingat segala sesuatu dapat terjadi dengan tak terduga di negeri ini, akhirnya aku bela-belain datang pagi.
Aku ingat hubby suka tanya-tanya ke orang-orang yang sering dikategorikan marjinal, seperti pak ogah di tikungan jalan, tukang sampah, tukang sapu, pengasong, pengemis, tukang parkir, dan sebaginya. Alasan hubby, siapa tahu mereka lebih suka disapa pengendara atau orang lewat. Alasan lainnya, menyenangkan mendengar dialek penduduk setempat.

Nah, begitu memasuki Disdukcapil, aku tanya ke petugas kebersihan, untuk mengurus ka te pe caranya bagaimana. Ia memberi tahu harus dengan map warna tertentu. Aku langsung tanya di mana beli map, dijawab dengan tumpukan map jualannya. Ok, aku beli satu. Lalu kami disarankan mendaftar ke satpam. Setelah parkir motor, aku dan si bungsu berjalan ke pintu masuk.
Saat melewati penjual map lainnya, aku iseng tanya, di mana pendaftaran untuk bikin ka te pe. Dijawab hal sama, di pos satpam. Ditambahin bahwa map yang kubawa salah warna. Anakku langsung konfirmasi ke tukang sapu pertama mengenai warna map. Jika memang salah, mau tukar warna. Ternyata tukang sapu berkeras map yang disarankannya benar. Okelah.

Anakku lalu mencatatkan namanya di pos satpam. Alhamdulillah masih masuk jajaran 20 nama. Kami menunggu di kursi antrean di depan lobby.
Orang-orang mulai berdatangan menenteng map warna-warni sesuai urusan. Aku duduk dengan kelaparan. Mau mlipir ke waralaba terdekat, tapi malas jalan. Akhirnya order daring makanan.
Bersambung ke part 2-an.
Dah kayak platform aja, ye kan.


